Petualangan di Mawas – Bagian 1, Palangka Raya ke Camp Mantangai

Ini adalah pengakuan saya sebagai tipikal seorang warga kota besar. Jika bukan karena pekerjaan saya yang seru di Yayasan BOS, maka olahraga paling intensif yang saya lakukan selama dua tahun terakhir ini paling-paling hanya sebatas naik-turun tangga di kantor. Cuma itu.

Teman-teman saya – sesama penduduk kota besar – sering bertanya, kok bisa sih saya meninggalkan zona nyaman saya untuk bertualang di pelosok hutan Kalimantan saat tugas lapangan? Nah, inilah satu lagi pengakuan saya. Awalnya memang tidak mudah tapi justru di situ serunya! Seperti penghuni kota besar pada umumnya, saya juga sempat berpikir bahwa bekerja dan tinggal di hutan itu tidak enak dan menyusahkan. Ini adalah kesalahpahaman yang umum terjadi dan saya harus mengakui bahwa ternyata… saya salah.

Betul, saya harus agak menurunkan ekspektasi pribadi, seperti toilet duduk dan kadang-kadang, kemungkinan mandi setiap hari. Tapi selain itu, Yayasan BOS (dan saya yakin juga LSM-LSM lingkungan hidup lainnya) selalu memastikan bahwa staf kami yang harus berbasis di bawah kanopi dapat tinggal dengan nyaman. Dan kenyataan inilah yang saya temui pada saat saya meninjau Program Konservasi Mawas milik Yayasan BOS, untuk pertama kalinya.

Peta Mawas

Alih-alih merasa sengsara, saya malah enggan untuk pulang. Saya begitu menikmati Mawas dan berharap saya bisa tinggal lebih lama. Jika seorang “anak kota” seperti saya bisa merasa seperti berada di rumah sendiri di tengah hutan gambut yang lebat di Mawas, tentunya tidak akan sulit untuk meyakinkan orang lain, kan? Potensi ekowisata? Mungkin saja!

Meski begitu, cerita ini bukan kisah wisata. Bagaimana pun juga, saya dikirim ke Mawas bukan untuk berlibur, melainkan untuk mengumpulkan update mengenai berbagai kegiatan penting yang dilakukan di sana. Tapi, di sini saya mau cerita terlebih dahulu tentang serunya petualangan saya di Mawas sambil sedikit-sedikit mengulas tentang setiap aktivitas, yang semoga bisa menggoda keingintahuan Anda untuk mengenal lebih dalam tentang Mawas. Kemudian, barulah saya akan memberikan empat update terpisah di mana saya akan menguraikan secara lebih detail mengenai setiap kegiatan yang saya saksikan selama perjalanan ini. Semua update ini akan diterbitkan satu setiap minggu. Itu berarti sebulan penuh kisah-kisah Mawas untuk Anda!

Program Konservasi Mawas

Program Konservasi Mawas adalah program milik Yayasan BOS yang melindungi habitat alami bagi orangutan liar, seluas 309.000 hektar. Secara administratif, areal Mawas mencakup dua kabupaten utama – Kabupaten Barito Selatan dan Kabupaten Kapuas – serta lima kecamatan dan 53 desa dengan total populasi sebanyak 29.000 keluarga.

Kawasan gambut di Mawas juga merupakan salah satu rumah terakhir bagi populasi orangutan di mana diperkirakan ada 3.000 orangutan liar yang tinggal di sana. Karena itu, Mawas adalah sebuah situs penting untuk konservasi orangutan.

29.000 keluarga tinggal di kawasan Mawas

Jika Anda belum tahu atau tidak ingat, inilah definisi singkat tentang perbedaan antara orangutan liar, semi-liar, dan rehabilitan. Orangutan liar adalah orangutan yang tidak pernah keluar dari habitat sejatinya, di mana mereka hidup bebas dan mandiri seumur hidupnya. Semi-liar adalah orangutan yang tersingkir dari habitatnya karena satu atau lain hal, namun ketika diselamatkan dia terbukti masih memiliki sifat-sifat alaminya dan secara konsisten memperlihatkan kemampuan yang cukup untuk hidup di hutan; sementara rehabilitan adalah orangutan yang diselamatkan pada usia yang masih amat muda dan/atau sudah lama menjadi peliharaan manusia sehingga dia tidak memiliki atau sudah kehilangan sebagian besar kemampuan yang dibutuhkannya untuk hidup mandiri di hutan yang sesungguhnya. Maka para rehabilitan harus melalui proses rehabilitasi, yang rata-rata menghabiskan waktu selama tujuh tahun.

Orangutan liar di Mawas

Maka Program Konservasi Mawas, meskipun jarang dibicarakan, adalah program yang krusial. Program ini berperan sangat penting bagi upaya konservasi orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) yang masih tersisa saat ini, dan konservasi habitat alami mereka, serta juga secara umum upaya konservasi keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan pemberdayaan masyarakat lokal yang berkelanjutan.

Palangka Raya ke Kapuas

Petualangan saya ke Mawas dimulai pada 11 Januari 2013. Tepat untuk mengawali tahun yang baru! Setelah berkoordinasi singkat dengan Jhanson Regalino – Manajer Program Mawas – saya berangkat dari kantor Mawas di Palangka Raya, Kalimantan Tengah  setelah makan siang, didampingi oleh Kissar Odom (Penanggungjawab Rescue & Release), Sungkono (Koordinator Monitoring Kawasan), Kurniawan (Penanggungjawab Kantor Perwakilan Mantangai), Tommy (Manajer Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan) dan Sofi (Staf Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan). Naik mobil, kami menuju kantor Mawas di Kapuas di mana kami harus menukar mobil ini dengan mobil dobel gardan (4WD) untuk melanjutkan perjalanan. Saya mulai bersemangat membayangkan trek off-road berlumpur yang akan dilalui!

Biasanya, rute Palangka Raya-Kapuas bisa ditempuh dalam 2 jam, tapi kami butuh waktu lebih lama (3 jam) karena kami sering berhenti sepanjang jalan untuk jajan durian (Durio kutejensis), manggis (Garcinia mangostana) dan rambutan (Nephelium lappaceum) yang kebetulan sedang musim. Kami juga belanja jagung untuk membuat jagung bakar nanti malam.

Berhenti sebentar untuk jajan durian

Setibanya di kantor Mawas di Kapuas, hanya ada sedikit waktu untuk meluruskan kaki yang pegal-pegal. Semua barang-barang langsung dipindahkan ke mobil 4WD dan 15 menit kemudian kami harus berangkat lagi ke tujuan akhir hari itu, Kamp Mantangai.

Kapuas ke Mantangai

Kantor di Kapuas didirikan dengan tujuan menjaga relasi dengan pemerintah setempat, sementara Kamp Mantangai menjadi basis bagi semua kegiatan Mawas di Kabupaten Kapuas. Kegiatan utama di sini adalah rehabilitasi lahan gambut melalui reforestasi, yang didanai oleh Kalimantan Forests and Climate Partnership (KFCP). Kegiatan ini akan menjadi update pertama saya yang akan diterbitkan minggu depan. Jangan ketinggalan!

Akhirnya, kami tiba di Kamp Mantangai jam 7 malam, bertepatan dengan waktu makan malam! Di atas meja kayu panjang, kami disuguhkan sajian ikan patin bakar yang lezat dan telah dibumbui kecap manis, serta lalapan segar dan secobek penuh sambal yang sangat pedas.

Beristirahat di Camp Mantangai

Di Mantangai, saya merasa tak perlu berkompromi soal kenyamanan. Kamp di sini amat rapi dan terpelihara baik. Selain ruang makan, juga ada dapur, kamar mandi yang layak, empat kamar tidur yang bersih dan dilengkapi kipas angin, dan sebuah ruang bersama yang luas tempat tim di sini berdiskusi soal pekerjaan, mengadakan rapat, atau sekedar berkumpul bersama untuk menonton acara televisi. Namun begitu kami selesai mandi dan bersih-bersih usai makan malam, listrik padam! Dan kondisi mati lampu inipun kami jadikan “alasan” untuk bakar jagung dan menikmatinya bersama di teras depan sembari ngobrol-ngobrol santai, sampai tiba waktunya untuk beristirahat.

Kisah ini akan saya lanjutkan besok, ya… Ikuti “Petualangan di Mawas – Bagian 2” esok hari!

*****

Naskah oleh: Rini Sucahyo – Penasehat Komunikasi untuk CEO
Peta/foto oleh: Yayasan BOS – Program Mawas & Rini Sucahyo

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *