orangutans

Hati, Bayi Orangutan Keempat yang Tiba Tahun Ini

Pada 11 Februari 2018, kami menyelamatkan satu bayi orangutan betina yang diperkirakan berusia 2,5 tahun, bersama tim gabungan BKSDA Kalimantan Tengah dan petugas kepolisian dari Katingan Hulu. Bayi ini ditemukan di Desa Tumbang Sanamang, Kecamatan Katingan Hulu, menyusul informasi dari staff Pemberdayaan Masyarakat BOSF Nyaru Menteng yang melihatnya disekap di dalam sebuah kandang kayu. Ia tampak ketakutan dan penduduk desa kemudian memberitahu kami bahwa ia telah dipelihara di kandang selama 1 tahun sejak ditemukan.

Ketika kami tiba, bayi yang kemudian kami beri nama Hati, ditemukan mengalami trauma dan sama sekali tidak menunjukkan perilaku liar, indikasi bahwa ia telah lama dipelihara. Dokter hewan yang mendampingi segera melakukan pemeriksaan kesehatan awal, dan mendapatkan hasil Hati berada dalam kondisi fisik yang baik dan stabil.

Pemeriksaan awal oleh tim medis

Setelah tiba di Nyaru Menteng, Hati langsung menjalani karantina dan bergabung bersama dengan Rachel, Alejandra, dan Bravis, bayi-bayi orangutan yang belum lama tiba di Nyaru Menteng.

Tragisnya, hari itu bukan hanya satu orangutan yang membutuhkan tindakan penyelamatan. Dari desa yang sama, tim juga menyelamatkan satu bayi beruang madu berusia 3 bulan dan 2 individu kera gibbon dari penduduk lain yang tinggal di dekatnya. Kedua gibbon ini akan diserahkan ke lembaga yang direkomendasikan oleh BKSDA Kalimantan Tengah.

Beruang yang diselamatkan dari warga

Gibbon yang diselamatkan dari warga

Teks oleh: Tim Komunikasi BOS Foundation Nyaru Menteng

Anda dapat membuat perbedaan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

Ke Mana Perginya si Kecil Pemberani Suci?

Menginap di hutan untuk pertama kalinya

Suci terakhir kali terpantau sedang bermain bersama Meryl, Vino, dan Momot sebelum ia menghilang di hutan. Saat sore menjelang, dan setelah semua orangutan lain kembali dari Sekolah Hutan, kami menyadari bahwa Suci tidak ada di antara kelompok. Babysitter kami dan beberapa teknisi segera kembali ke Sekolah Hutan untuk mencarinya, dan menemukannya sendirian di atas pohon.

Suci di dalam hutan

Tim melakukan berbagai cara untuk membujuk Suci kembali bersama orangutan lain, akan tetapi ia bergeming di puncak pohon. Kami memutuskan untuk membiarkannya beberapa lama, namun kami awasi dari kejauhan.

Saat matahari mulai terbenam, kami mendapati Suci mencari pohon yang cocok untuk membangun sarang. Kami takjub melihatnya membuat sarang. Meski jauh dari sempurna, namun ia dapat membangun sarang yang aman untuk bermalam! Mungkin kelelahan, Suci segera naik dan lekas terlelap, di hari pertamanya menginap di hutan.

Prestasi Luar Biasa untuk Suci Kecil

Bukan hal yang aneh bagi orangutan menginap di Sekolah Hutan, terutama bagi orangutan muda, anggota grup 4 dan grup 5. Orangutan dalam dua grup ini lebih percaya diri, dan biasanya lebih mandiri. Namun, Suci baru berada di Grup 1, bahkan usianya belum genap tiga tahun! Tidak ada yang mengira ia punya keberanian untuk menginap di Sekolah Hutan sepanjang malam dan sendirian.

Ini merupakan sebuah catatan luar biasa bagi Suci, Ia menghabiskan malam sendirian di hutan, membuktikan bahwa ia percaya diri dan mandiri seperti teman-temannya yang lebih tua, meski usianya masih muda.

Suci kembali ke Sekolah Hutan

Ketika Suci akhirnya kembali dari Sekolah Hutan keesokan harinya, dokter hewan kami memeriksa kesehatannya dan kami sangat lega bahwa ia dalam kondisi prima.

Suci kini kembali bersama teman-temannya di Sekolah Hutan Grup 1. Kami berharap ia dapat menularkan pengetahuan, keberanian, dan keterampilan kepada anggota kelompoknya. Teruslah belajar dan berkembang, Suci dan kawan-kawan, agar kelak kalian bisa kembali ke hutan belantara dan berkembang pesat!

Teks oleh: Hermansyah, Staff Komunikasi BOSF Nyaru Menteng

Anda dapat membuat perbedaan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

Alam Kembali Menguji Tim Kami

Hujan deras terus mengguyur di Hutan Kehje Sewen selama beberapa pekan terakhir menyebabkan banjir bandang parah yang menghanyutkan perahu tim Post Release Monitoring kami (baca ceritanya di sini). Alam kembali memberikan tantangan, dengan badai lain yang melanda wilayah ini baru-baru ini dan menyebabkan banjir yang lebih parah.

Hujan yang terjadi ditambah banjir yang mengiringi merusak peralatan dan mesin, bahkan sangat kuat hingga membalikkan kendaraan patroli 4×4 tim PRM kami. Beruntung, tim telah mempersiapkan diri setelah banjir bandang yang lalu, dan mengikat kuat perahu untuk mencegahnya hanyut kembali. Semua siap siaga mengantisipasi kemungkinan terburuk yang terjadi.

Mobil Tim PRM terbalik di sisinya

Tim kami terbangun keesokan paginya di bawah sinar matahari menyinari Hutan Kehje Sewen dan segera mengecek keadaan setelah banjir malam harinya. Tanah longsor ditemukan di lebih dari delapan lokasi berbeda di sekitar Kamp Nles Mamse, dan jalan setapak terblokir oleh reruntuhan pohon di beberapa tempat.

Tim PRM pun segera memulai pembersihan jalan setapak, dan mengumpulkan peralatan yang terkubur di bawah longsoran. Tim pun harus membuka jalan patroli baru, dan mencari persediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di kamp.

Kondisi jalan longsor di sekitar kamp

Kerusakan tak hanya terjadi di sekitar kamp saja, kali ini, hujan juga mengakibatkan kerusakan di lokasi lain, termasuk jalan dari Pelangsiran menuju bagian utara Kehje Sewen dan sebaliknya, menuju Muara Wahau.

Kondisi jalan dari kamp menuju Pelangsiran

Meskipun dilanda banjir dan kekacauan yang diakibatkannya, anggota tim kami terus bertekad untuk tetap maju, bersikap positif, dan siap menghadapi kemungkinan kejadian berulang. Kami berharap orangutan yang kami lepasliarkan di hutan Kehje Sewen memiliki tekad yang sama untuk bertahan dan beradaptasi di alam liar yang sering kali tidak dapat diprediksi ini!

 

Teks oleh: Tim PRM di Kamp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!

Berkenalan Dengan Si Kecil Pemberani, Suci

Suci tiba di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng pada 8 Agustus 2016, saat masih berusia 12 bulan dan masih menunjukkan perilaku liar. Seperti orangutan lain yang kami rawat, Suci tiba tanpa induk yang bisa mengajari keterampilan bertahan hidup yang kelak ia butuhkan di alam liar. Setelah menjalani masa karantina selama 2 bulan, Suci bergabung di Grup Nursery kami, tempat ia beradaptasi dengan lingkungan baru dan bersosialisasi dengan orangutan sebayanya.

Suci saat tiba di Nyaru Menteng

Setahun kemudian, Suci masuk ke Sekolah Hutan Grup 1 untuk belajar kemampuan bertahan hidup dari para babysitter kami yang berdedikasi. Sekarang, setelah berusia 2,5 tahun, Suci sangat menikmati berada di Sekolah Hutan, dan dikenal karena kepiawaiannya dalam memanjat pohon dan menjelajah. Ia bahkan sangat menikmati bermain di atas pohon dan menjelajah jauh ke dalam hutan.

Suci di Sekolah Hutan sedang bermain bersama teman-temannya

Baru-baru ini, Suci terpantau sedang bermain dengan Meryl, Vino, dan Momot, namun, ia tak kunjung kembali dari Sekolah Hutan bersama teman-temannya saat petang menjelang. Ini janggal terjadi pada Suci yang biasa kembali ke Baby House bersama teman-temannya dan para babysitter. Tentu saja, semua orang khawatir dan bertanya-tanya. Ke mana Suci pergi? Adakah hal buruk terjadi di hutan dan ia baik-baik saja? Suci terlalu masih terlalu muda untuk menginap di hutan.

Lalu, apa yang terjadi pada Suci yang manis? Nantikan kelanjutan cerita kami, pekan depan!

Teks oleh: Hermansyah, Staff Komunikasi BOSF Nyaru Menteng

Anda dapat membuat perbedaan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

Apapun yang Terjadi, Tim PRM Terus Berjuang!

Keberadaan para orangutan yang menawan, satwa yang beragam, serta kondisi alam yang sulit ditebak, Kehje Sewen memiliki keunikan tersendiri. Hutan tidak pernah membosankan, dan tim PRM kami di Kamp Nles Mamse harus bisa beradaptasi dengan berbagai kondisi dan tetap waspada, semua hal tak terduga bisa terjadi di tengah belantara, seperti yang kami alami beberapa pekan lalu.

Sekitar tengah malam,  tidur kami terbangun oleh hujan deras yang turun tiba-tiba di di bagian selatan Kehje Sewen.  Dalam sekejap mata, sungai di belakang kamp meluap dan membanjiri area sekitarnya. Dermaga dekat kamp juga tak luput dari terjangan banjir, dan perahu motor kami hanyut terbawa arus.

Tiga anggota tim PRM kami, Luy, Mendan, dan Hejeang bergegas menuju dermaga berusaha menahan perahu, namun tali penambat perahu tak mampu menahan derasnya arus. Ketiga anggota PRM melompat ke dalam perahu dan mencoba menyalakan mesin, sementara air terus masuk ke badan perahu. Mereka bekerja secepat mungkin mengeluarkan air dari dalam perahu, smentara perahu mulai terbawa arus ke hilir. Tak ayal, mereka terjebak dalam situasi yang sangat genting.

Cuaca buruk, hujan yang terus-menerus, dan keadaan gelap gulita semakin menyulitkan, perahu mulai tenggelam dengan cepat, dan tim PRM harus melupakan upaya heroik penyelamatan perahu dan menyelamatkan nyawa mereka. Beruntung mereka bisa berenang ke daratan dan kembali ke kamp, untuk berkumpul kembali dengan anggota PRM lainnya yang berusaha menyelamatkan peralatan lainnya di kamp.

Kami sangat bersyukur dan lega karena Luy, Mendan, Hejeang serta semua tim PRM lainnya selamat dan dalam kondisi baik. Kami akan terus menghadapi beragam tantangan, namun kami tidak akan pernah menyerah untuk menyelamatkan orangutan!

Teks oleh: Tim PRM di Kamp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!

Misi Penyelamatan Kilat Orangutan

Pada 26 Januari, tim gabungan dari BOS Foundation dan BKSDA Kalimantan Tengah berhasil menyelamatkan satu individu orangutan berusia 2,5 tahun dengan berat badan 3,3 kilogram, di Desa Lapetan, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Dilaporkan bahwa bayi orangutan ini ditemukan di hutan terdekat, sendirian tanpa induk, saat terjadi angin kencang dua bulan sebelumnya. Warga yang menemukan kemudian membawanya ke rumah untuk dirawat.

Berbeda dengan sebelumnya, penyelamatan kali ini melibatkan tim BOSF dari Program Konservasi Mawas, menyusul informasi yang diterima salah satu staff mereka tentang warga setempat yang memelihara bayi orangutan. Informasi ini kemudian disampaikan ke tim BOSF Nyaru Menteng, yang berkoordinasi dengan BKSDA Kalimantan Tengah untuk melakukan misi penyelamatan. Lokasi desa yang terpencil dan keharusan untuk bergerak cepat, terbantu oleh tim Mawas yang berinisiatif melakukan penjemputan lalu menyerahkan bayi tersebut kepada tim Nyaru Menteng dan BKSDA Kalimantan Tengah. Satu dokter hewan kami dari klinik di Nyaru Menteng turut mendampingi untuk memberikan bantuan medis.

Bayi orangutan saat diselamatkan oleh tim BOSF

Pemeriksaan awal oleh dokter hewan kami, drh. Maryos Tandang menunjukkan bayi ini dalam keadaan lemas, mengalami dehidrasi parah, dan cacingan. Tim medis kami segera memberikan cairan infus untuk memberikan pertolongan pertama bagi sang bayi.

Bayi orangutan sedang diperiksa oleh drh. Maryos Tandang

Setelah beberapa hari beristirahat dan menjalani perawatan di klinik, kondisi bayi ini mulai membaik. Ia menjadi lebih aktif dan sekarang sudah dapat makan dan minum. Kami terus melakukan tes kesehatan lebih lanjut dan memberikan perhatian penuh selama 24 jam sehari untuk memastikan ia pulih dari luka dan trauma setelah terpisah dari induknya. Segera setelah ia menyelesaikan tes kesehatan yang dibutuhkan, ia akan dipindahkan ke fasilitas karantina yang ada di Baby House tempat ia akan bergabung bersama Rachel dan Alejandra.

Bayi orangutan saat ini

 

Teks oleh: Tim Komunikasi BOS Foundation

Anda dapat membuat perbedaan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

Yuniar Betah di Rumah Barunya

Beberapa hari lalu, tim PRM kami dari Kamp Nles Mamse di Hutan Kehje Sewen berangkat sangat awal di pagi hari untuk mengumpulkan data nest-to-nest dari orangutan yang kami lepasliarkan. Anggota tim yang terdiri dari Rere, Siti, dan Bagus, berangkat di tengah hujan lebat untuk mencari keberadaan orangutan yang sulit dijumpai yaitu Ingrid, Ivan, dan Yuniar, ketiganya dilepasliarkan bulan Desember lalu. Tim terus melacak sinyal radio mereka, berharap dapat menemukan ketiga orangutan ini.

Hujan lebat yang terus menerus mengguyur selama beberapa pekan, mengikis jalan setapak dan menyebabkan tanah longsor di beberapa titik, memaksa tim untuk mengatasi medan yang sulit. Namun, Bagus menemukan sinyal dan melihat sesosok orangutan sedang bergantung di dahan pohon, melihat ke arah kami. Itu ternyata Yuniar, salah satu orangutan yang memang kami cari untuk didata. Yuniar sangat tidak nyaman berada di sekitar wanita dan melihat Siti dan Rere, membuatnya gelisah.

Yuniar sedang berada di pohon

Tim bergerak menjauh dan sempat kehilangan jejak Yuniar untuk sesaat, tapi untunglah kami menemukannya kembali tak jauh dari lokasi awal. Berhati-hati agar tidak terlihat, tim mengambil binokular dan lensa kamera panjang untuk mengumpulkan data aktivitas Yuniar. Sepanjang hari, Yuniar banyak bergerak untuk mencari pakan, dan bahkan turun ke lantai hutan untuk makan umbut-umbutan sebelum naik kembali ke pohon untuk makan buah hutan.

Yuniar mencari umbut-umbutan di tanah

Yuniar adalah individu yang waspada. Setelah menyadari tengah diawasi, ia segera menunjukkan rasa tidak senang. Tak terasa hari mulai gelap, dan tim memutuskan untuk meninggalkan Yuniar dan kembali ke kamp. Kami menandai lokasi terakhir Yuniar di peta untuk membantu tim kembali melakukan pengamatan di hari berikutnya.

Kami sangat senang Yuniar berkembang dengan baik di alam liar. Tetap sehat dan nikmati kebebasanmu, Yuniar!

Teks oleh: Tim PRM di Kamp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!

Ibu dan Anak yang Dilepasliarkan Menikmati Hidup di Hutan Kehje Sewen

Kabar Terbaru Dari Pasangan Ibu Dan Anak

Tim PRM kami di Kamp Nles Mamse, di belantara hutan Kehje Sewen belum lama ini melakukan pengamatan terhadap pasangan ibu dan anak, Ingrid dan Ivan yang dilepasliarkan pada 4 Desember 2017. Tim kami mengarah ke lokasi terakhir Ingrid dan Ivan terdeteksi melalui sinyal pelacak radio mereka, kemudian mendaki bukit mengikuti arah datangnya sinyal telemetri. Ingrid bersama Ivan kecil di dekatnya, kami temukan di sebuah pohon di puncak bukit. Tim PRM segera memulai pengumpulan data, dengan tetap menjaga jarak aman agar tidak mengganggu pasangan ibu dan anak ini.

Ingrid dan Ivan

Ingrid dan Ivan tampak sehat, dan teramati makan banyak buah-buahan hutan. Setelah puas, keduanya turun ke lantai hutan dan mencari sumber pakan lainnya, seperti umbut-umbutan, semut, dan rayap.  Sementara mereka sibuk makan, Angely muncul, namun Ingrid dan Ivan nampak tak keberatan dengan kehadiran Angely, dan ketiganya menghabiskan waktu bersama. Beberapa saat kemudian, Angely memanjat pohon untuk melanjutkan penjelajahannya di hutan.  Ingrid dan Ivan juga menyusul naik ke pohon dan membuat sarang malam. Keduanya nampak sudah beristirahat malam itu, tim pun menyudahi pengamatan hari itu dan kembali ke kamp.

Ivan Mulai Menunjukkan Kemandirian

Tim kami melakukan pengamatan nest to nest terhadap Ingrid dan Ivan selama satu bulan penuh, sejak mereka dilepasliarkan, dan menyaksikan pasangan ibu dan anak ini berkembang dengan sangat baik di hutan. Ingrid banyak menghabiskan waktunya untuk makan, menjelajah hutan, dan membuat sarang. Sungguh menakjubkan melihat betapa cepatnya Ingrid menyesuaikan diri dengan rumah barunya.

Sama seperti ibunya, Ivan yang berusia 4 tahun, telah menyatu dengan kehidupan di alam liar. Ivan yang pada mulanya sangat bergantung pada ibunya kini lebih aktif dan bahkan berani berada di jarak tertentu dari Ingrid. Ia tidak lagi mudah menangis dan mulai mencari makan sendiri. Ia suka bermain di pepohonan dan penasaran dengan hal-hal baru yang ia temukan. Sering kali tim PRM mendengar bunyi ranting patah dari atas pohon dan melihat Ivan sedang mencoba membangun sarang. Ia sedang mempelajari keterampilan barunya dengan cepat, suatu pertanda positif yang kami harapkan dari para orangutan yang kami lepasliarkan di hutan.

Ivan makan buah hutan hasil pencariannya

Kami bahagia melihat Ingrid dan Ivan hidup dengan baik di alam liar. Kami akan terus memantau kemajuan mereka, untuk memastikan mereka tetap bahagia dan dalam kondisi sehat di rumah barunya!

Teks oleh: Tim PRM di Kamp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!

Hari Pertama Rachel dan Alejandra di Grup Nursery

Anggota terbaru grup Nursery Nyaru Menteng, Alejandra dan Rachel, telah menjalani pemeriksaan menyeluruh di klinik kami dan kini dirawat di bagian karantina Baby House. Di lingkungan baru ini, Alejandra dan Rachel memiliki ruang untuk menjelajah, pohon untuk dipanjat dan berbagai enrichment untuk dicoba. Di sini mereka dapat bermain dan menjadi aktif, yang tentunya sangat bermanfaat, terutama bagi Rachel, yang berusia lebih tua dari keduanya.

Rachel dan Alejandra didampingi oleh dokter hewan dan babysitter kami

Rachel dan Alejandra di Baby House

Rachel tak disangka pandai memanjat untuk seusianya dan senang berada pada ketinggian beberapa meter dari tanah. Namun, ia tampak tidak nyaman jika babysitter tak ada di sampingnya. Jika babysitter terlihat menjauh atau pergi untuk mengambil sesuatu, Rachel akan segera mengikutinya. Hal ini memang biasa terjadi, karena di alam liar, orangutan seusia Rachel tidak akan berada jauh dari ibunya.

Sementara itu, Alejandra, yang berusia kurang dari 12 bulan dan jauh lebih muda dari Rachel, sudah mulai bisa duduk sendiri. Alejandra tampak nyaman di lingkungan barunya – dia cukup bersahabat dengan dokter hewan dan babysitter, dan kadang-kadang ia pun bermain sendiri.

Bayi orangutan yang terus menerus datang ke Pusat Rehabilitasi kami dengan jelas menunjukkan bahwa undang-undang yang diberlakukan untuk melindungi sumber daya alam dan melarang kepemilikan serta penangkapan satwa liar, masih lemah penegakannya di Indonesia. Jika kita tidak menghentikan deforestasi sekarang, makhluk luar biasa ini akan punah dalam waktu yang sangat cepat. Orangutan memainkan peran penting dalam menjaga kualitas hutan tempat mereka tinggal. Kita semua membutuhkan hutan untuk memberi kita udara dan air bersih, dan untuk membantu mengatur iklim, oleh karena itu, kita harus melakukan segala upaya yang kita bisa untuk melindungi orangutan.

Teks oleh: Tim Komunikasi BOS Foundation

Anda dapat membuat perbedaan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

Alba Akan Segera Pindah ke Rumah Baru

Alba, satu-satunya orangutan albino di dunia seharusnya berada di hutan dan akan segera memulai kehidupan baru ke sebuah pulau berhutan berukuran 10 hektar di akhir bulan Juni.  

Serupa dengan manusia, orangutan juga memiliki keunikan individual. Namun ada satu individu yang begitu berbeda dengan sesamanya: Alba adalah satu-satunya orangutan albino di dunia. Ia diberi nama sesuai kata Latin untuk namanya “putih”, dalam kompetisi penamaan yang diselenggarakan oleh BOS Foundation pada bulan Mei 2017. Dalam waktu dekat Alba akan dipindahkan ke sebuah pulau berhutan khusus berukuran 10 hektar, sehingga ia dapat hidup bebas, dan terlindung dari ancaman manusia.

Alba diselamatkan oleh tim gabungan dari BOS Foundation dan BKSDA Kalimantan Tengah pada 29 April 2017 di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Berita penemuannya mendapat perhatian luas dari seluruh dunia. Kondisinya sangat menyentuh hati dan menyita perhatian seluruh dunia, serta membuat orang bertanya-tanya mengenai apa yang akan terjadi terhadapnya.

Alba

Meskipun Alba memiliki pengalaman hidup yang baik di alam liar – suatu perilaku yang mengindikasikan bahwa ia dapat ditranslokasi dengan cepat tanpa melalui proses rehabilitasi yang panjang – kondisi albino mejadikannya kasus yang sangat langka, sehingga memerlukan strategi rehabilitasi yang telah direncanakan secara matang. Gejala albinisme – yaitu kurangnya pigmen melanin di rambut dan kulitnya – dapat menyebabkan komplikasi kesehatan, seperti penglihatan yang buruk, pendengaran kurang tajam, dan kanker kulit, sehingga membuatnya lebih rentan terhadap perburuan atau predasi.

Pulau untuk Alba

Alba akan ditemani oleh 3 orangutan lain di pulau berhutan baru tersebut, yaitu Radmala (betina, usia 4 tahun), Kika (betina, 6), dan Unyu (jantan, 4). Mereka semuanya telah dikondisikan untuk bergaul dengan Alba dan sejauh ini menunjukkan penerimaan yang baik. Ketiganya juga menunjukkan perilaku liar dan kami kategorikan sebagai semi-liar.

Kelak di pulau suaka tersebut, Alba dan teman-temannya ini akan dipantau dan dijaga sepanjang waktu oleh staf yang akan melakukan patroli teratur keliling pulau sekaligus mengumpulkan data kesehatan dan perilaku ketiganya. Selain itu, staff kami akan mencatat para orangutan yang mendatangi panggung tempat pemberian pakan (feeding platform) yang menyediakan asupan makanan tambahan, dua kali dalam sehari.

Proyek pengerjaan di pulau tersebut saat ini berlangsung cepat dan hampir selesai. Kanal yang berfungsi sebagai pembatas alam telah kami rampungkan di akhir 2017 lalu (lihat gambar di atas). Sementara fasilitas keamanan dan monitoring saat ini tengah dikerjakan, yang kami harapkan bisa selesai di akhir Februari mendatang. Bagaimanapun, masih ada kesempatan untuk memberi donasi bagi pembangunan pulau Alba. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk konstruksi feeding platform dan pos-pos keamanan serta pengadaan kebutuhan sehari-hari Alba dan teman-temannya di sana. Dengan bantuan kalian semua, Alba dan teman-temannya akan bisa mengembangkan sisi liarnya di pulau suaka tersebut.  Silakan klik di sini untuk berdonasi.

Kami berharap untuk bisa memindahkan Alba selambat-lambatnya di bulan Juni 2018.

Teks oleh: Tim Komunikasi BOS Foundation

Anda dapat membuat perbedaan dan membantu menyelamatkan orangutan!