orangutans

Para Calon Ibu, Meklies dan Ebol Siap Melahirkan!

Kami sangat bersemangat menunggu kehadiran anggota keluarga orangutan baru di Hutan Lindung Bukit Batikap (Batikap). Di bulan Agustus lalu, tim kami menemukan dua orangutan kami, Meklies (yang dilepasliarkan tahun 2015) dan Ebol (2012) sedang mengandung (baca cerita lengkapnya di sini). Sejak saat itu, kami mencoba sebisa mungkin melacak kedua calon ibu itu dan mengikuti perkembangan mereka, meskipun kami tahu ini bukanlah tugas yang mudah.

Pekan lalu, tim kami berhasil menemukan Meklies dan Ebol ketika melakukan kegiatan pemantauan rutin di Batikap. Kedua orangutan betina ini tampak dalam kondisi prima! Meklies yang menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pepohonan yang tinggi, terlihat sangat bugar dan makan buah hutan dalam jumlah besar. Meskipun sulit melihatnya dengan jelas, dokter hewan kami, Maryos Tandang, menyatakan bahwa Meklies dalam keadaan baik dan mendapat asupan nutrisi yang cukup (terlihat dari jejak makanan yang ditemukan di lantai hutan di bawahnya). Tim kami menduga ia sedang menyiapkan sarang yang nyaman untuk melahirkan.

Meklies kiss-squeak kepada tim PRM

Sementara itu, Ebol berpindah dari daerah Joloi Atas ke daerah Joloi Bawah, setelah sebelumnya ia terlihat bersama Lamar. Tim kami terus mengikuti dan mencatat aktivitasnya hingga ia membuat sarang malam. Setelah membandingkan gambar dan menganalisa catatan pengamatan terbaru, kami memperkirakan bahwa ia siap melahirkan dalam waktu dekat.

Ebol bersantai di atas pohon

Tim kami gembira menyebarkan berita baik ini! Kami berharap semesta merestui dan mendukung kedua betina ini untuk melahirkan bayi yang kuat dan sehat di Hutan Lindung Bukit Batikap. Semoga keduanya melahirkan dengan selamat dalam waktu dekat!

Cerita oleh: Alizee Martin, Koordinator PRM di Batikap

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!

Robert dan Ajeng: Akankah Menjadi Calon Pasangan Baru di Kehje Sewen?

Saat musim hujan datang, hujan turun setiap hari di Hutan Kehje Sewen. Langit pagi yang cerah berganti mendung di sore hari dan membawa hujan deras yang berlangsung hingga larut malam. Meskipun cuaca tidak bersahabat, tim kami tetap bersemangat melakukan pengamatan dan mengumpulkan data orangutan yang telah dilepasliarkan kembali.

Rabu lalu, tim PRM berangkat ke hutan sekitar pukul 8 pagi untuk mencari dan mengamati Robert, orangutan jantan berusia sembilan tahun yang dilepasliarkan April tahun ini. Tim mendaki sejauh empat kilometer, melalui medan yang menantang dan jalan berbukit sebelum akhirnya mendapati Robert sedang bersantai di sebuah pohon. Mereka kemudian menyiapkan binokular serta peralatan PRM lainnya, dan mulai mencatat aktivitas Robert.

Robert duduk di dahan pohon

Tak lama kemudian, Ajeng, orangutan betina berusia 11 tahun yang kami lepasliarkan dua tahun yang lalu, muncul entah dari mana dan menghampiri Robert. Ini adalah pertama kalinya kami melihat keduanya bertemu di hutan. Robert nampak tenang dan sama sekali tidak terganggu oleh kehadiran Ajeng yang tak diundang.

Ajeng bergantung di dahan Liana

Keduanya dengan senang hati  menghabiskan waktu bersama mencari makan dan makan buah hutan. Dengan gerakan yang manis, Robert mengulurkan tangannya kepada Ajeng dan pasangan ini melanjutkan makan sambil berpegangan tangan. Kemudian, karena mungkin merasa terlalu percaya diri dan terbawa suasana, Robert memeluk Ajeng untuk memulai kopulasi. Ajeng tidak menanggapi dan Robert menerima penolakan tersebut dengan kembali melanjutkan aktivitas makannya. Tak lama kemudian, Ajeng mengulurkan tangan untuk menyentuh Robert, yang membalasnya dengan menolak balik uluran tangannya.

Momen canggung antara keduanya berlangsung cukup lama, hingga akhirnya mereka perlahan berpisah dan bergerak ke arah yang berbeda. Tim dengan sigap berpisah untuk terus mengamati keduanya, dengan harapan mereka akan kembali bersama di siang hari. Sayangnya, hujan turun dan kami harus menyudahinya.

Kami tidak tahu apakah Robert dan Ajeng bertemu lagi hari itu, tapi kami bersyukur dapat bertemu dengan dua orangutan yang berkembang dan beradaptasi dengan baik di rumah baru mereka. Kami sangat berharap interaksi mereka tidak berhenti sampai di situ dan keduanya akan dapat menghasilkan populasi orangutan liar baru di Hutan Kehje Sewen.

Teks oleh: Tim PRM di Kamp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!

Persahabatan di Hutan: Kisah Belinda, Long, Dan Arief

Hari Selasa pagi, tiga anggota tim PRM kami di Kamp Nles Mamse – Luy, Cohel, dan Valerie berangkat menuju transek fenologi 2 untuk mencari Belinda, orangutan betina yang kami lepasliarkan Juli lalu.  Beberapa hari sebelumnya, tim sempat melihat Belinda ketika tim dalam perjalanan pulang menuju kamp.

Beruntung, tim menemukan Belinda tak jauh dari sarang tempat ia bermalam beberapa hari lalu. Tim memulai pengamatan terhadap Belinda dan mengambil data aktivitasnya. Tak berapa lama, tim melihat kanopi pohon bergerak, diikuti dengan kemunculan Long dan Arief! Anda mungkin ingat cerita mengharukan dari pasangan ibu dan anak ini (Baca ceritanya di sini).

Belinda

Belinda yang menyadari Long dan Arief menuju ke arahnya, langsung menghampiri mereka ketika mereka tiba, dan ketiganya menghabiskan waktu bersama. Arief terlihat masih tergantung kepada Long, melakukan kiss-squeak dua kali sebelum akhirnya meninggalkan ibu angkatnya untuk bermain bersama Belinda, yang tak bisa menolak ajakan bermain dari tamu yang menawan ini.

Arief mengikuti ke manapun Belinda pergi, sementara itu Long yang penuh perhatian mengamati dan memberi kebebasan Arief untuk bermain bersama teman barunya. Belinda terlihat tidak keberatan Arief mengikuti, sesekali ia menunjukkan perhatian bahkan membagi sebagian makanannya dengan orangutan muda ini.

Arief dan Belinda

Arief bermain dan bergulat dengan Belinda yang dengan sabar menanggapi. Belinda sempat mencoba membuat sarang, namun segera berhenti ketika menyadari Arief masih ingin ditemani bermain. Setelah beberapa lama, Arief akhirnya kembali ke Long, memberikan kesempatan bagi Belinda untuk menyiapkan sarang bermalam.

Arief dan Long

Sinar mentari mulai meredup dan langit menggelap, para serangga malam mulai riuh berbunyi, waktunya tim PRM untuk pergi dan meninggalkan ketiga orangutan untuk beristirahat.

Sangat mengagumkan melihat ketiga orangutan ini hidup dengan sangat baik di Hutan Kehje Sewen. Setelah menuntaskan pengamatan, tim kembali ke kamp untuk berbagi cerita tentang Belinda, Long dan Arief.

 

Teks oleh: Tim PRM di Kamp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!

 

BOS Foundation Melepasliarkan Dua Belas Orangutan ke TNBBBR Termasuk Dua Orang yang Direpatriasi dari Thailand

Kampanye #Orangutanfreedom masih berlanjut dan kami baru saja melepasliarkan lagi 12 orangutan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Pelepasliaran kali ini meliputi empat jantan dan delapan betina, dengan dua di antaranya menyelesaikan 11 tahun masa rehabilitasi di Nyaru Menteng setelah sebelumnya direpatriasi dari Thailand.

Kedua betina yang direpatriasi ini, Nanga dan Sukamara, tiba di Nyaru Menteng pada bulan November 2006, saat mereka berusia lima dan sembilan tahun. Sangat sedikit Informasi latar belakang tentang keduanya, namun dari tingkah lakunya jelas bahwa mereka sebelumnya berada cukup lama di kandang dan kemungkinan besar pernah berada di beberapa fasilitas hiburan. Ketika tiba di Nyaru Menteng, Nanga dan Sukamara ditempatkan bersama 46 orangutan lain hasil repatriasi dari Thailand di kelas khusus Sekolah Hutan untuk melatih keterampilan dasar seperti memanjat, membuat sarang, mencari makan, bersosialisasi, dan mengenali predator. Butuh waktu lama bagi Nanga dan Sukamara sebelum mereka dianggap siap menjalani tahap akhir rehabilitasi di pulau pra-pelepasliaran. Namun pada 2016, keduanya dipindahkan ke Pulau Bangamat dan kemajuan positif yang mereka tunjukkan membuat keduanya terpilih sebagai kandidat pelepasliaran.

Nanga dan Sukamara mengikuti jejak Wanna, orangutan repatriasi dari Thailand yang dilepaskan ke TNBBBR pada bulan Februari lalu (baca ceritanya di sini) dan orangutan lain sepertinya yang berhasil menyelesaikan rehabilitasi dan dilepasliarkan ke hutan belantara.

Tim Nyaru Menteng kami mengangkut 12 orangutan tersebut dalam dua kelompok terpisah: Nanga, Imot, Kahim, Puput, Puji, dan Hangei berangkat pada tanggal 9 November dan dilepaskan keesokan harinya. Sementara Sukamara, Stuart, Rawa, Bruni, Rebecca, dan Rowo berangkat pada 11 November, dan dilepasliarkan pada 12 November.

Masing-masing tim pelepasliaran bersama enam orangutan meninggalkan Nyaru Menteng setelah para orangutan dipindahkan ke kandang transport dan diangkut ke kendaraan 4×4 di kompleks karantina Nyaru Menteng.

Pembiusan yang dilakukan oleh dokter hewan Nyaru Menteng dengan bantuan teknisi

Tim pertama berangkat dari Nyaru Menteng sekitar pukul 7 malam menuju Desa Tumbang Tundu, desa terakhir yang berada di tepi TNBBBR. Perjalanan darat memakan waktu 10 jam dengan dengan perhentian setiap dua jam untuk memeriksa orangutan.

Tim pelepasliaran meninggalkan Nyaru Menteng dan menuju Tumbang Tundu

Tim pelepasliaran berhenti untuk memastikan orangutan dalam dengan baik

Di Desa Tumbang Tundu, tim memasangkan alat pelampung di kandang transport kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri sungai ke arah hulu selama empat jam menggunakan perahu motor kecil yang dikenal sebagai ‘ces’, atau ‘kelotok’.

Tim menggunakan perahu kecil untuk mencapai titik pelepasliaran

 

Kedua Belas Orangutan Akhirnya Bebas!

Tim tiba di tepi sungai dekat titik pelepaliaran di jantung Taman Nasional sekitar pukul 10 pagi, dan kandang transport kemudian diangkat dari perahu dan dibawa ke titik pelepasliaran yang telah ditentukan sebelumnya. Selangkah lagi para orangutan menuju kebebasannya di rumah baru mereka!

Anggota tim membawa kandang untuk ke titik-titik pelepasliaran

Hanne dan Bue dari STO membuka kandang Nanga

Teknisi kami, Toni dan Sugiharto membuka kandang Sukamara

Akhirnya Keduabelas Orangutan memperoleh #Freedom

Ini merupakan pelepasliaran orangutan ke-19 yang telah dilakukan BOS Foundation di Kalimantan Tengah sekaligus ke-7 di TNBBBR, yang saat ini telah menampung 71 orangutan dari Nyaru Menteng.

Kami sangat menghargai dukungan yang diberikan oleh pemerintah Kalimantan Tengah dan seluruh pemangku kepentingan yang berkomitmen terhadap upaya konservasi orangutan dan habitatnya di provinsi Kalimantan Tengah. Ini adalah program reintroduksi yang berkelanjutan dengan tujuan membentuk populasi orangutan yang sehat dan mampu mendukung konservasi orangutan di Kalimantan yang sangat terancam punah di alam liar, sebuah target yang berusaha kami capai saat ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang telah mendukung program pelepasliaran dan upaya konservasi orangutan!

Teks oleh: Tim Komunikasi BOS Foundation

Kau dapat membuat perbedaan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

[SIARAN PERS] Dua Orangutan Dari Thailand Kembali ke Habitat Alami Mereka di TNBBBR

Yayasan BOS bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) akan melepasliarkan dua orangutan yang direpatriasi dari Thailand ke TNBBBR di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Nanga dan Sukamara, dua orangutan yang direpatriasi dari Thailand di tahun 2006 lalu, menjalani proses rehabilitasi yang panjang di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah di Nyaru Menteng (Nyaru Menteng) sebelum siap hidup liar di alam bebas. Keduanya bersama 10 orangutan lain akan dilepasliarkan dalam kegiatan pelepasliaran orangutan Yayasan BOS yang ke-7 kalinya di kawasan TNBBBR. Pelepasliaran ini juga merupakan yang ke-19 kali dilakukan oleh Yayasan BOS bekerja sama dengan BKSDA Kalimantan Tengah sejak tahun 2012. 

Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, 9 November 2017. Dalam komitmen untuk merealisasikan kampanye #OrangutanFreedom yang menargetkan pelepasliaran 100 orangutan ke hutan alami dan 100 orangutan lainnya ke pulau-pulau pra-pelepasliaran di tahun 2017 ini, Yayasan BOS bersama BKSDA Kalimantan Tengah dan Balai TNBBBR hari ini kembali melepasliarkan sejumlah orangutan ke habitat alami mereka di Hutan TNBBBR. Pelepasliaran ini sekaligus merayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang jatuh di tanggal 5 November.

Ada 12 orangutan yang dilepasliarkan hari ini, terdiri dari empat orangutan jantan dan delapan betina, dengan dua betina di antaranya adalah Nanga dan Sukamara, orangutan hasil repatriasi dari Thailand di tahun 2006, saat Yayasan BOS menerima total 48 orangutan dari negara tersebut. Dari kelompok tersebut, Nanga dan Sukamara adalah yang kedua dan ketiga yang kami lepasliarkan di hutan.

Keduabelas orangutan akan dibawa dalam 2 pemberangkatan terpisah melalui perjalanan darat dan sungai selama kurang lebih 10-12 jam dari Nyaru Menteng ke titik-titik yang telah ditentukan di TNBBBR. Kelompok pertama berangkat hari ini, sementara yang kedua akan berangkat di tanggal 11 November. Pelepasliaran orangutan yang ke-19 ini menambah populasi orangutan eks-rehabilitasi di TNBBBR menjadi 71 individu.

Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengatakan, “Proses rehabilitasi orangutan bukanlah satu hal yang bisa selesai dalam waktu singkat. Kita bisa lihat dalam pelepasliaran kali ini, dua orangutan di antaranya berasal dari repatriasi di tahun 2006 lalu. Sebelas tahun waktu yang mereka butuhkan sampai kami nilai siap untuk kembali hidup mandiri di hutan. Orangutan bukanlah satwa yang kita bisa lepasliarkan semau kita. Mereka butuh waktu bertahun-tahun mengasah keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk bisa bertahan hidup di hutan. Tidak hanya waktu, proses ini juga butuh dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, kegiatan rehabilitasi sebagai bagian dari konservasi, butuh kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan. Kami tidak bisa mengerjakannya sendirian.

Orangutan adalah satu-satunya kera besar yang hidup di Asia, sekaligus kerabat terdekat manusia. Sebagai spesies yang dilindungi Undang-undang, orangutan berperan penting dalam regenerasi hutan. Kondisi ini membuat kita wajib bekerja keras melestarikan keberadaan mereka.

Kami bangga bisa berperan mengembalikan ratusan orangutan kembali ke habitatnya, namun kami butuh bantuan Anda semua. Mari kita bersama-sama juga menjaga hutan yang masih tersisa bagi orangutan, karena hutan yang lestari dan terlindungi merupakan faktor penting bagi kualitas hidup manusia.”

Ir. Adib Gunawan, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, mengatakan, “Pelepasliaran orangutan ini adalah suatu momen penting karena bertepatan dengan diperingatinya Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) tanggal 5 November 2017. Dua puluh empat tahun yang lalu pemerintah menetapkan tanggal tersebut karena keprihatinan yang besar terhadap keberadaan puspa dan satwa yang ada di Indonesia. Sejak saat itu berbagai program terus dilakukan pemerintah menyelamatkan, melindungi dan merawat puspa dan satwa Indonesia termasuk orangutan di Kalimantan dan Sumatera. Kami di BKSDA Kalimantan Tengah sebagai perpanjangan tangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia di level provinsi selalu berupaya aktif menindaklanjuti berbagai laporan terkait orangutan dengan melakukan penyelamatan, rescue, patroli, dan berbagai kegiatan yang dibutuhkan untuk menjaga kawasan konservasidan keanekaragaman hayati tetap terjaga. Pada tanggal 13-14 November minggu depan kita akan mengadakan kegiatan Regional Meeting Kalimantan Tengah Tahun 2017 yang akan dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan, baik itu dari pemerintah, NGO, dan pihak swasta. Diharapkan dengan adanya acara tersebut tercetus ide, inisiatif, serta terobosan baru bagi upaya konservasi orangutan di Kalimantan Tengah.”

Ir. Heru Raharjo, M.P., Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, juga mengatakan, “Sejak tahun 2016 lalu, kami di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya telah menampung orangutan rehabilitasi dari Yayasan BOS di Nyaru Menteng sebanyak 59 individu, dan hari ini, angka itu akan menjadi 71. Semakin banyak orangutan bisa hidup bebas di habitat alami mereka, semakin baik! Untuk menjamin para orangutan ini bisa hidup aman dan layak di hutan, kami melakukan patroli teratur bersama tim dari Yayasan BOS. Kami pastikan tidak ada pemburu atau oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab mengeksploitasi sumber daya alam di kawasan ini, dan membahayakan kehidupan orangutan beserta satwa liar lain di dalamnya.

Sejauh ini, saya mendapat laporan bahwa para orangutan hidup aman jauh dari ancaman pemburu. Kami semua sangat berharap seluruh orangutan yang telah kita lepasliarkan bersama segera membentuk populasi liar baru di Taman Nasional ini dan terus berkembang.”

Tidak hanya melibatkan Yayasan BOS, BKSDA Kalimantan Tengah, dan Balai TNBBBR, kegiatan ini juga melibatkan USAID LESTARI yang telah berkomitmen mendukung aktif program pelepasliaran orangutan di TNBBBR sampai tahun 2018 mendatang.

Rosenda Chandra Kasih, USAID LESTARI Kalimantan Tengah Landscape Coordinator mengatakan bahwa USAID LESTARI mendukung upaya pelepasliaran yang dilakukan BOSF sebagai salah satu upaya konservasi orangutan dan langkah untuk mendorong pengelolaan yang lebih baik di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kalimantan Tengah. “Dengan tambahan 12 orangutan, wilayah TNBBBR di Katingan akan menampung total 71 orangutan. Ini akan meningkatkan nilai aspek keanekaragaman hayati di kawasan ini, dan mendukung konservasi hutan yang merupakan salah satu bagian penting dalam visi dan misi kami. USAID Lestari sangat menghargai kerja sama yang dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan di kawasan ini, dan kami dukung sepenuhnya semua upaya untuk menciptakan populasi orangutan liar baru di taman nasional ini demi tujuan melestarikan orangutan, spesies yang status konservasinya dinyatakan ‘sangat terancam punah’ oleh IUCN. Kita semua tentu tidak ingin mereka punah, dan ini adalah tugas kita semua untuk mencegahnya,” jelasnya.

Demi kesuksesan upaya konservasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, Yayasan BOS selalu bekerja sama erat dengan Pemerintah Indonesia di semua tingkat: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Katingan, BKSDA Kalimantan Tengah, dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Yayasan BOS juga memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas dukungan sejumlah mitra lain seperti masyarakat Kabupaten Katingan, donor perseorangan, organisasi-organisasi mitra seperti PT. Cometa International, serta Zoos Victoria dan Commonwealth of Australia yang telah memberikan dukungan melalui Department of Environmental and Energy, dan organisasi konservasi di seluruh dunia. Yayasan BOS juga sangat berterima kasih atas dukungan seluruh pihak atas dukungan dan kontribusinya dalam memastikan tercapainya upaya konservasi dan pelestarian alam di Indonesia.

**************************************************

Kontak:

Paulina Laurensia Ela

Spesialis Komunikasi

Email: pauline@orangutan.or.id

 

Monterado Fridman (Agung)

Koordinator Divisi Komunikasi dan Edukasi Nyaru Menteng

Email: agungm@orangutan.or.id

 

Rosenda Chandra Kasih

USAID LESTARI Kalimantan Tengah Landscape Coordinator

Email: rosenda.kasih@lestari-Indonesia.org

 

**************************************************

Catatan Editor:

TENTANG BOS FOUNDATION (YAYASAN BOS)

Didirikan pada 1991, Yayasan BOS adalah sebuah organisasi non-profit Indonesia yang didedikasikan untuk konservasi orangutan Borneo dan habitatnya, bekerja sama dengan masyarakat setempat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan organisasi mitra internasional.

Yayasan BOS saat ini merawat sekitar 650 orangutan dengan dukungan 400 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id.

 

TENTANG USAID LESTARI

Proyek USAID LESTARI adalah sebuah proyek kerjasama Pemerintah Amerika Serikat dengan Pemerintah Republik Indonesia. USAID LESTARI mendukung upaya Pemerintah Republik Indonesia (RI) menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), meningkatkan pelestarian keanekaragaman hayati di ekosistem hutan dan mangrove yang bernilai konservasi tinggi serta kaya simpanan karbon.

USAID LESTARI bekerja di enam lanskap yang berciri sama yaitu memiliki wilayah hutan primer utuh, cadangan karbon tinggi, yang kaya akan keanekaragaman hayati. Lanskap tersebut berlokasi di Aceh (Lanskap Leuser), di Kalimantan Tengah (Lanskap Katingan-Kahayan), dan Papua (Lanskap Lorentz Lowlands, Mappi-Bouven Digoel, Sarmi dan Cyclops).

PROFIL KANDIDAT PELEPASLIARAN ORANGUTAN KE-19 NYARU MENTENG

#OrangutanFreedom masih terus berjalan dan kami tengah bersiap melepasliarkan 12 orangutan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kalimantan Tengah. Berikut profil para orangutan hebat yang akan segera memulai perjalanan pulang kembali ke alam liar

1. STUART

Stuart diselamatkan pada tanggal 5 April 2003, dari seorang warga desa Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Orangutan jantan ini masih berusia kurang dari setahun dengan berat badan 3,9 kilogram (kg) saat tiba di Nyaru Menteng.

Pada 6 Juni 2016 Stuart dipindahkan ke Pulau Bangamat untuk mengikuti tahapan pra-pelepasliaran setelah lulus dari Sekolah Hutan. Ia beradaptasi dengan baik dengan lingkungan barunya dan setelah setahun di pulau pra-pelepasliaran, Stuart menunjukkan sifat mandiri yang baik.

Kini Stuart telah berusia 15 tahun dengan berat badan 44,8 kg. Stuart yang berambut pendek semasa kecil, kini tumbuh menjadi orangutan gagah dengan cheeckpad di pipinya yang sudah mulai terlihat. Stuart telah siap kembali ke habitat alaminya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

2. IMOT

Imot diselamatkan dari warga Desa Luwuk Bunter, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pada 1 November 2009. Orangutan jantan ini tiba di Nyaru Menteng saat berusia 2,5 tahun dengan berat badan 6 kg.

Imot berkembang dengan baik di Sekolah Hutan dan pada 18 Maret 2014 ia dipindahkan ke Pulau Pra-pelepasliaran Palas. Setelah 2 tahun di Pulau Palas, ia pindah ke Pulau Bangamat untuk melanjutkan tahap pra-pelepasliaran.

Imot kini berusia 11 tahun dengan berat badan 42,3 kg. Proses rehabilitasi selama 8 tahun telah membantu mengembangkan sifat liar dan keterampilan bertahan hidup, yang akan membantunya setelah dilepasliarkan ke habitat alam.

3. NANGA

Nanga adalah orangutan betina yang direpatriasi dari Thailand pada tahun 2006. Ia dibawa ke Nyaru Menteng saat berusia 5,5 tahun dengan berat badan 22 kg. Nanga harus menjalani proses adaptasi yang lama karena telah lama disekap, namun tetap bisa lulus dari Sekolah  Hutan pada 2009.

Pada 20 Mei 2010 saat usianya sekitar 10 tahun, ia melahirkan anak pertamanya, Ben. Namun Nanga harus dipisahkan dari anaknya, karena usia Nanga yang terlalu dini. Ben kemudian dibesarkan di bawah pengawasan tim medis dan babysitter.

Pada 24 Maret 2016, Nanga akhirnya memiliki kesempatan pindah ke Pulau Pra-pelepasliaran Bangamat, tempat ia berkembang dengan pesat dan sangat terampil mencari pakan alami. Setelah 11 tahun masa rehabilitasi, Nanga yang memiliki tatapan lembut kini berusia 17 tahun dengan berat badan 39,4 kg. Ia siap untuk hidup mandiri di hutan liar.

4. ROWO

Rowo diselamatkan pada 25 Januari 2004 dari seorang warga Desa Horowu, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Betina ini tiba di Nyaru Menteng saat berusia 18 bulan dengan berat badan 4,7 kg.

Ia segera bergabung dengan Sekolah Hutan Nyaru Menteng dan berhasil lulus dengan baik pada 2009. Namun ia baru mendapatkan kesempatan mengikuti tahapan pra-pelepasliaran di Pulau Bangamat pada 28 Maret 2016.

Rowo kini berusia 15 tahun dengan berat badan 53 kg. Berbekal keterampilan yang telah ia pelajari selama 13 tahun, betina berambut tebal ini sudah siap hidup mandiri di rumah barunya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

5. HANGEI

Hangei betina cantik berambut panjang, tiba di Nyaru Menteng pada 29 September 2008 setelah diselamatkan dari seorang warga Desa Tumbang Hangei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Saat itu ia masih berusia 4 tahun dengan berat badan 6 kg dan masih memiliki sifat liar.

Setelah seluruh tahapan rehabilitasi di Sekolah Hutan ia jalani, Hangei mengikuti tahap pra-pelepasliaran di Pulau Bangamat sejak tanggal 7 Juni 2016. Di Bangamat, Hangei dikenal sebagai orangutan penjelajah yang baik.

Kini Hangei telah berusia 13 tahun dengan berat badan 35,1 kg. Setelah 9 tahun masa rehabilitasi, Hangei si pemberani telah siap menjajal rumah barunya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

6. RAWA

Pada tanggal 16 Mei 2005, Rawa diselamatkan dari warga yang memeliharanya selama hampir 1 tahun di daerah Danau Rawa, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas. Orangutan jantan ini tiba di Nyaru Menteng saat berusia 3 tahun dengan berat badan 8,7 kg.

Tahun-tahun awal di Nyaru Menteng merupakan masa sulit bagi Rawa, karena Ia sempat menderita malaria dan tifus berkepanjangan. Berkat perawatan intensif dan kasih sayang yang diberikan tim medis dan para babysitter kami yang berdedikasi, akhirnya Rawa pulih.

Rawa mengembangkan keterampilannya di Sekolah Hutan dan lulus pada bulan Juli 2009. Ia kemudian melanjutkan proses rehabilitasinya di Pulau Prapelepasliaran Kaja pada 7 April 2016.Kini Rawa telah berusia 15 tahun dengan berat badan 58,7 kg. Rambut tebal di kepala serta rahang yang memanjang dengan janggut tipis keemasan membuatnya mudah dikenali. Setelah 12 tahun mengasah kemampuan bertahan hidup, jantan tangguh ini telah siap kembali hidup liar di hutan.

7. SUKAMARA

Sukamara direpatriasi dari Thailand tahun 2006. Ia tiba di Nyaru Menteng bersama Nanga pada tanggal 22 November 2006, saat berusia 9 tahun dan dalam kondisi sehat.

Di Nyaru Menteng, Sukamara mengikuti kelas Sekolah Hutan khusus yang diperuntukkan bagi orangutan repatriasi dari Thailand. Ia dipindahkan ke Pulau Pra-pelepasliaran Palas sejak 6 Mei 2014 dan kemudian pindah ke Pulau Bangamat pada 14 Juni 2016.

Merupakan orangutan betina dominan, Sukamara kini telah berusia 20 tahun dengan berat badan 41,4 kg. Dengan keterampilan yang terasah setelah rehabilitasi selama 11 tahun, Sukamara sangat siap untuk kembali ke hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

8. REBECCA

Rebecca diselamatkan tim gabungan dari BOS Foundation Nyaru Menteng dan BKSDA Kalimantan Tengah dari Kota Sampit, Kabupaten Kotawiringin Timur pada 5 Februari 2006. Orangutan betina ini tiba di Nyaru Menteng dalam keadaan kurus dan sedikit dehidrasi dengan berat badan hanya 4,5 kg saat baru berusia 2 tahun.

Sepuluh tahun kemudian Rebecca lulus dari Sekolah Hutan dan melanjutkan ke tahap pra-pelepasliaran di Pulau Kaja sejak 3 Agustus 2016. Di Pulau Kaja, ia berkembang dengan baik, ia sangat terampil membuat sarang, mengenali pakan alami, dan aktif menjelajah pulau

Rebecca kini berusia 13 tahun dengan berat badan 31 kg. Ia tumbuh menjadi sosok yang menawan dan sebentar lagi akan menjalani kehidupan liarnya di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

9. KAHIM

Kahim diselamatkan dari area konsesi perkebunan kelapa sawit PT. Solonok Ladang Mas di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, bersama 2 orangutan lain (Leggi dan Endut). Ketiganya dipelihara para karyawan perkebunan kelapa sawit di baraknya. Kahim tiba di Nyaru Menteng pada tanggal 2 Februari 2007 di usia 2 tahun dengan berat badan 5,5 kg.

Kahim tumbuh menjadi orangutan jantan yang aktif dan pandai bersosialisasi, serta berteman akrab dengan Gurita (telah dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya). Setelah lulus Sekolah Hutan, Kahim mengikuti tahap pra-pelepasliaran di Pulau Palas sejak 25 Maret 2014, lalu pindah ke Pulau Bangamat pada 8 April 2017. Selama di Pulau Palas dan Pulau Bangamat, Kahim berkembang menjadi penjelajah handal.

Kahim kini berusia 12 tahun dengan berat badan 45,6 kg. Kahim yang bersahabat yang memiliki tatapan mata tajam, rahang yang kuat, serta janggut tipis keemasan, disukai oleh orangutan lain sebayanya. Ia segera menjadi orangutan liar sejati dan menyusul sahabatnya, Gurita, hidup di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

10. PUPUT

Pada 27 Januari 2006, Puput berhasil diselamatkan dari seorang warga di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah saat ia berusia 3 tahun dengan berat badan 8,3 kg.

Orangutan betina yang memiliki semacam cheeckpad di pipinya ini melanjutkan proses rehabilitasi ke pulau pra-pelepasliaran di Pulau Palas sejak 10 Desember 2010. Ia kemudian dipindahkan ke Pulau Kaja pada 20 Juli 2015. Selama di pulau pra-pelepasliaran Puput mengasah kemampuannya menjelajah hutan dan beradaptasi dengan lingkungan barunya

Puput kini berusia 14 tahun dengan berat badan 40,3 kg. Setelah 12 tahun menjalani proses rehabilitasi di Nyaru Menteng, Puput kini siap untuk menjelajah belantara hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, rumah sejatinya.

11. PUJI

Puji diselamatkan dari wilayah perkebunan kelapa sawit di Keruing Raya Estate, Desa Keruing, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Orangutan betina ini tiba di Nyaru Menteng pada tanggal 24 Februari 2007 saat berusia belum setahun dengan berat badan 3,9 kg.

Semasa di Sekolah Hutan, Puji mengembangkan keterampilan dasar dengan baik dan lanjut ke tahap pra-pelepasliaran di Pulau Kaja pada 3 Agustus 2016. Di pulau prapelepasliaran Puji beradaptasi dengan baik dengan lingkungan baru, dan bersama sahabatnya, Bruni, mereka menjelajah, mencari pakan alami, dan mengembangkan keterampilan membangun sarang.

Puji kini berusia 11 tahun dengan berat badan 35,8 kg. Dengan semua kemampuan bertahan hidup yang dikuasainya, ia siap menjalani petualangan baru yang menyenangkan bersama Bruni sahabatnya, di hutan belantara Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

12. BRUNI

 

Bruni tiba di Nyaru Menteng pada 25 Juni 2008 saat berusia 2 tahun dengan berat badan 8 kg. Orangutan betina ini diselamatkan dari konsesi perkebunan kelapa sawit PT. Tunas Agro Subur Kencana (PT TASK) di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Bruni mengikuti tahapan Sekolah Hutan hingga akhirnya pindah ke Pulau Bangamat pada 7 Juni 2016. Bruni membuktikan kemandiriannya dalam bertahan hidup, ia merupakan salah satu orangutan yang handal menjelajah dan mencari pakan. Ia sering terpantau menjelajah pulau bersama sahabatnya Puji.

Bruni kini telah berusia 11 tahun dengan berat badan 32,5 kg. Betina liar yang cantik ini kini sudah siap menjelajah rimba Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya bersama sahabatnya Puji.

 

 

Terungkapnya Orangutan Misterius!

Anda mungkin masih ingat cerita pemantauan tim PRM tentang Elisa, ketika tim PRM terkejut dengan kemunculan tiba-tiba orangutan yang tidak dikenal (Baca ceritanya di sini).

Sambil menunggu dengan sabar di hutan untuk mengamati kembali Elisa, kami tertangkap basah oleh sesosok orangutan yang tiba-tiba muncul dari belakang. Kami dengan cepat mundur untuk menjaga jarak dari pengunjung misterius, yang sekilas tampak seperti Elisa. Kami sebenarnya tidak yakin itu Elisa, karena kami berani bersumpah melihat Elisa berpindah pohon beberapa saat sebelumnya. Untuk memastikan, salah satu anggota tim kami, Usup, mencoba memeriksa sinyal orangutan lainnya, namun tidak mendapatkan apapun. Kami menyerah dan berasumsi bahwa orangutan tersebut tentu Elisa. Masih agak bingung, kami terus mengamati orangutan itu dan mencatat aktivitasnya.

Anehnya, ‘Elisa’ tidak melakukan apapun kecuali duduk di tanah dan mengamati kami. Hal ini agak aneh, karena kami belum pernah melihat Elisa turun ke lantai hutan. Dia tidak bergerak selama hampir setengah jam, hanya melihat kami dengan penuh rasa ingin tahu dan memperhatikan anggota PRM. Untuk memberikan ruang bagi ‘Elisa’ untuk melakukan aktivitas rutinnya, kami mundur perlahan sambil tetap memantaunya dalam jangkauan kami.

Karena penasaran, kami mulai membandingkan foto Elisa dan ‘Elisa’, sementara kami mengamatinya dari kejauhan. Dengan perbandingan foto, kami bisa memastikan bahwa orangutan ini bukan Elisa, tapi Mona, betina yang kami lepasliarkan empat tahun yang lalu (Baca ceritanya di sini). Memang, kedua betina ini terlihat mirip! Hal ini menjawab pertanyaan kami, kemunculan tiba-tiba individu orangutan tanpa sinyal yang terdeteksi tidak diragukan lagi karena baterai pemancarnya yang telah habis.

Seolah ingin memastikan bahwa orangutan ini bukan Elisa, Elisa yang sebenarnya muncul dari balik dedaunan lebat dan menatap kami. Sekali lagi, Elisa yang sebenarnya mengeluarkan kiss-squeak untuk menyuarakan ketidaksenangannya dengan kehadiran kami.

Akhirnya, setelah beberapa jam mengumpulkan data pengamatan, kami meninggalkan Mona dan Elisa. Kami sangat senang bisa bertemu kembali dengan Mona yang cantik dan terlihat bahagia dan sehat di hutan. Ini adalah hasil yang baik untuk tim PRM hari itu.

Teks oleh: Tim PRM di Kamp Lesik, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!

Nyaru Menteng Kembali Menerima Satu Bayi Orangutan

Beberapa hari yang lalu kami menerima laporan bahwa ada satu bayi orangutan dipelihara di sebuah desa bernama Lawang Uru, 2 jam berkendara dari Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah. Pada tanggal 24 Oktober, satu tim gabungan dari BKSDA Kalimantan Tengah dan BOS Foudation berangkat untuk menyelamatkan bayi jantan berusia 3 tahun dengan berat badan 7,3 kg, yang kami beri nama Uru.

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh warga bernama Ido Dasit, bayi ini adalah korban kebakaran hutan tahun 2015. Ido mengaku menemukan Uru sendirian di tepi hutan yang terbakar dan membawanya pulang. Seperti kasus lain yang serupa, kemungkinan besar ibu bayi ini dibunuh dan ia dipelihara. Selama dua tahun, Uru tinggal di kandang kayu dan diberi makanan manusia seperti nasi, mi instan, dan sirup, alih-alih pakan alami seperti buah, daun, kulit kayu dan makanan hutan lain.

Selama dua tahun dikandangkan, anak-anak warga setempat bermain dengan Uru, dan dia diakui pernah menderita batuk, pilek, dan diare, yang diobati pemiliknya menggunakan parasetamol, sama seperti yang diberikan kepada anak sendiri.

Begitu Uru tiba dengan selamat di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, pemeriksaan menyeluruh dilakukan oleh tim dokter hewan kami, dan menemukan bahwa meskipun berat badan Uru termasuk normal untuk orangutan seusianya, kondisinya digolongkan malnutrisi. Tim kami memberikan perawatan 24 jam kepada Uru yang ditempatkan di kompleks karantina Baby House bersama dua bayi lainnya yang baru saja diselamatkan, Susanne dan Topan (Baca cerita Susanne dan Topan di sini). Di Nyaru Menteng, tim medis kami akan merawat Uru hingga kembali sehat, perlahan membantunya beralih ke pakan alami dan mengembangkan perilaku alami orangutan.

Uru adalah bayi orangutan ke-6 yang diselamatkan dari Kabupaten Pulang Pisau, sekaligus bayi ke- 21 yang masuk ke Nyaru Menteng tahun ini. Jumlah ini sangat tinggi dan kami sangat prihatin melihat populasi spesies yang ‘sangat terancam punah’ ini di habitat alaminya terus menurun. Orangutan bukan hewan peliharaan dan situasi darurat ini harus segera ditangani, jika kita masih berharap menyelamatkan populasi orangutan liar Kalimantan yang tersisa.

Teks oleh: Tim Komunikasi BOS Foundation

Kamu bisa membuat perubahan sekarang juga dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

Pertemuan dengan Elisa

Hari Jumat yang cerah, tim PRM kami di Kamp Lesik menyusuri jalan transek Bukit Titin untuk mengamati Elisa, orangutan betina yang kami lepasliarkan bulan Maret tahun ini (Baca cerita lengkapnya di  sini). Pagi itu tim kami terdiri dari Usup, Rere, dan Valerie, langsung menuju lokasi di mana tim menemukan sinyal Elisa beberapa hari sebelumnya. Sesampainya di puncak Bukit Titin, kami terus mengikuti sinyal kuat Elisa, menembus lebatnya belukar rotan dan tanaman rambat hingga akhirnya kami berhasil menemukannya.

Elisa dengan cepat mendeteksi kehadiran kami dan menunjukkan ketidaksukaannya dengan melakukan kiss-squeak, dan berpindah cepat di antara dahan pohon untuk mengawasi kami dengan lebih jelas. Menyadari ketidaksukaannya, kami menjauh perlahan-lahan sambil tetap mengamatinya dari jarak aman.

Untuk beberapa saat Elisa hanya duduk diam di dahan sambil mengamati kami, namun segera merasa bosan dan lantas memakan bunga dan daun muda. Terlalu asyik makan, ia tak lagi memedulikan kami. Ini memberi kami kesempatan untuk mengamati aktivitas Elisa sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memanjat lebih tinggi dan sulit kami amati lagi.

Kami menolak menyerah semudah itu, dan terus menunggu tanda-tanda kemunculan Elisa dari tempat ia terakhir terlihat. Tiba-tiba, di luar dugaan, sesosok orangutan muncul di belakang kami. Mungkinkah Elisa mengambil jalan memutar dan dengan cerdiknya menyelinap di belakang kami? Ataukah itu orangutan lain datang untuk mengejutkan kami? Nantikan dan ikuti kisahnya pekan depan!

Teks oleh: Tim PRM di Kamp Lesik, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!

Orangutan yang Kami Lepasliarkan Berkembang Pesat, Menghasilkan Generasi Baru di Batikap

BOS Foundation telah melepasliarkan lebih dari 167 orangutan ke Hutan Lindung Bukit Batikap Kalimantan Tengah sejak tahun 2012, memberikan kesempatan kedua bagi orangutan yang kami selamatkan untuk hidup di alam liar. Sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya, setiap orangutan menjalani rehabilitasi selama bertahun-tahun untuk mengasah keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di hutan.

Beberapa orangutan yang pertama kali kami rilis lima tahun lalu tidak dapat lagi ditemukan, karena baterai pada pemancar telemetrinya telah mati. Tim Post-Release Monitoring (PRM) kami melakukan pengamatan reguler pasca kegiatan pelepasliaran, untuk memeriksa perkembangan setiap orangutan di lingkungan baru mereka. Begitu pemancar telemetri tidak lagi aktif, kami harus percaya sepenuhnya pada kemampuan mereka untuk bertahan hidup di alam tanpa campur tangan manusia.

Namun, meski tanpa pemancar telemetri kadang-kadang kami cukup beruntung untuk menjumpai beberapa orangutan yang telah lama dilepasliarkan saat berpatroli. Seperti misalnya Monic, dari rombongan lepasliar pertama dan sudah melahirkan bayi orangutan yang sekarang berusia empat tahun dan penuh energi! Atau seperti Ebol, yang juga dilepasliarkan lima tahun yang lalu. Ia ditemukan awal Agustus tahun ini oleh salah satu anggota tim PRM kami saat melakukan patroli di tepi sungai. Karena Ebol tidak pernah bertemu dengan manusia dalam waktu yang lama, dia tampak pemalu namun penasaran, saat dia hanya duduk memperhatikan para observer setajam para observer mengamatinya. Karena bosan, ia lantas kembali mencari makan dan memakan umbut rotan. Anggota tim kami terkejut melihat dia melahap pakan hutan dalam porsi besar, tidak terpengaruh kehadiran tim PRM.

Ebol

Selagi mengamati Ebol, tim PRM  menyadari bahwa alat kelaminnya membesar, menunjukkan dia hamil! Anggota tim PRM memperkirakan usia kehamilannya masih berada di trimester pertama. Karena transmiter calon ibu ini tidak lagi aktif, kami hanya bisa berharap dapat menemukannya lagi di masa yang akan datang – tentu dengan bayi kecil di pelukannya!

Ini bukan satu-satunya kejutan yang kami dapatkan di bulan Agustus. Pada pertengahan bulan, kami berjumpa dengan Meklies, betina pemalu yang sejak dulu tidak menyukai kehadiran para pengamat yang melacaknya. Kami beruntung dapat mengamatinya selama tiga hari, dengan perilaku khasnya, yaitu bertengger di pepohonan tinggi dan menghindari para observer. Dia juga menghabiskan banyak waktu makan di pohon yang sama, terutama di hari ketiga pengamatan saat ia menghabiskan lebih dari lima jam makan lunuk, salah satu jenis tumbuhan hutan. Dia bahkan membangun sarangnya di pohon yang sama, hal yang jarang terjadi pada orangutan, mereka biasanya membangun sarang di pohon berbeda dengan pohon sumber pakan.

Meklies

Salah satu teknisi kami akhirnya berhasil memotret betina pemalu ini, yang menunjukkan bahwa dia, sama seperti Ebol, alat kelaminnya membengkak. Namun berbeda dengan Ebol, Meklies sepertinya telah memasuki usia akhir kehamilan, dan pemancar telemetrinya masih aktif, sehingga kami dapat menemukannya kembali dan melihat bayinya dalam waktu dekat!

Tim PRM kami sangat bersemangat mengabarkan mengenai dua kehamilan ini. Seperti layaknya orang tua yang bangga, kami sangat senang menemukan orangutan yang kami lepasliarkan tidak hanya sekadar bertahan hidup, tapi juga berkembang pesat di alam, bahkan berkembang biak. Kami­ tidak sabar menunggu generasi penerus muncul dari para orangutan ini di surga alam liar Bukit Batikap!

Teks oleh: Alizee Martin, Koordinator PRM di Batikap

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke BOS Foundation!