|
Setelah setengah hari bekerja sebagai buruh tebangan, Pak Sujari dan 2 orang temannya mencoba beristirahat siang sambil berhayal memakan bekal yang sejak tadi pagi dijinjing dari pondok kerja ke lokasi tebangan di dalam hutan. Betapa terkejut mereka mendapati bekal tidak berada ditempatnya dengan kemasan rantang yang berantakan kosong, dan begitu juga air minum yang hanya tinggal secuil didasar botol aqua bekas yang biasanya mereka pakai sebagai tempat air minum. Setelah dicermati Pak Sujari, ternyata yang mengambil dan menghabur bekal siangnya adalah orangutan, dan saat mengetahui hal itu Pak Sujari hanya mengelus dada dan berucap, wah makan siang kita disantap saudara tua sambil tertawa terkekeh-kekeh. Sekelumit cerita ini disampaikan oleh salah seorang buruh yang sedang bekerja di kawasan HPH PT. ITCI Kartika Utama, yang berbatasan dengan kawasan Hutan Lindung Gunung Beratus (HLGB), dimana Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) pernah melepasliarkan sekitar 300 orangutan berasal dari pusat rehabilitasi Wanariset Samboja. Mengetahui akan hal tersebut Yayasan BOS dan PT ITCI Kartika Utama selaku pemegang Hak Pemanfataan Hutan (HPH) berinisiatif melakukan sosialisasi khusus kepada pekerja lapangan tentang bagaimana harus bersikap selama melakukan penebangan kayu yang dekat dengan kawasan dimana ada habitat orangutannya. Hal ini penting dilakukan untuk mengurangi konflik orangutan dan manusia. Sehingga Kamis, 7 Mei 2009 tepatnya jam 17.00 wita berlokasi di Camp PT. ITCI Kartika Utama dekat dengan HLGB, dilakukan sosialiasi tentang orangutan kepada 30 pekerja. Beberapa hal yang disampaikan dalam sosialisasi, meliputi; sifat dasar orangutan, perbedaan sikap mendasar antara orangutan liar dan orangutan rehab, serta kiat apa saja yang harus dilakukan saat terjadi perjumpaan dengan orangutan rehab ketika melakukan aktivitas penebangan di dalam hutan. Secara spesifik juga disampaikan beberapa himbauan penting pihak Yayasan BOS saat sosialisasi berlangsung, meliputi ; - Himbauan kepada pekerja agar ikut mendukung pelestarian orangutan disebabkan dilindungi pemerintah, hampir punah dan merupakan satwa kebanggaan Indonesia. - Orangutan rehab sangat tertarik dengan aktivitas manusia, sehingga cenderung mendekat ketika ada manusia, dan sebaliknya orangutan liar akan menghindari kehadiran manusia. - Jangan berusaha memberi makanan pada orangutan rehab walaupun terlihat jinak, hal ini sangat mempengaruhi orangutan dalam hal ketergantungannya dengan manusia. - Menghindari konflik dengan menjaga jarak minimal 10 meter dari jarak orangutan berada. - Jika membawa bekal sebaiknya disembunyikan sehingga tidak mudah diganggu dan dicuri orangutan. - Tidak membuang sisa makanan di dalam kawasan hutan agar tidak mengkontaminasi kebiasaan makan orangutan yang sudah kembali mengkonsumsi pakan alminyatan atau bekas sarang baru (daun hijau). - Sebelum melakukan penebangan di dalam petak tebang terlebih dahulu memperhatikan apakah ada sebaran orangutan dengan tanda keberadaan orang. Sementara itu manajemen PT. ITCI Kartika Utama juga melakukan himbauan kepada pekerja lapangan sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pelestarian orangutan, antara lain; - Tidak melakukan penebangan pohon di sepanjang jalur border yang telah ditetapkan PT. ITCI Kartika Utama yang terletak di sepanjang perbatasan kawasan dengan Hutan Lindung. - Melakukan tebang selektif didasari jenis tumbuhan pakan alami orangutan dan pohon tempat sarang. - Mendukung kegiatan survey di kawasan kelola sebagai langkah kebijakan pengelolaan kawasan HPH PT. ITCI Kartika Utama untuk mendukung pelestarian orangutan dan habitatnya. Proses sosialisasi dihadiri oleh Nanang, Ahmad (Yayasan BOS), Tessa Rosanda (BKSDA), dan Komsatum, Yusuf, Eko (PT.ITCI Kartika Utama), dan 30 orang pekerja lapangan. Setelah sosialisasi dilakukan dengan antusias pekerja bertanya beberapa hal tentang orangutan, dan pertemuan sosialisasi ditutup seiring semakin gelapnya lokasi karena sang matahari mulai merunduk keperaduannya.
|