Latest News

[PRESS RELEASE] BOS Foundation, Swiss-Belhotel International, Quiksilver Indonesia, and Coca-Cola Amatil Indonesia Take Bold Action in Indonesian Orangutan Conservation through #SAVEDODO Campaign

[:en]

Jakarta, (28/11)—The Bornean orangutan population has declined by 75% since 1900[1], and currently there are only an estimated 54,000 Bornean orangutans left in the wild[2]. With a continued decline in numbers and given the immediate threats to their habitat, hunting, and illegal trade, this exclusive Asian species native to the island of Borneo, is listed as an Endangered species.

In response to this pressing environmental concern, Swiss-Belhotel International (SBI) together with the Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation and with the support of Quiksilver Indonesia (QS) and Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI), have taken bold action to help prevent orangutan extinction by initiating a new and exciting campaign, #SAVEDODO. Dodo, one of the orangutan survivors is the face of this initiative, which serves as a channel for all stakeholders to support Bornean orangutan conservation.

Dodo 2
Dodo, the mascot of #SAVEDODO campaign, one of the orangutans that BOS Foundation have taken care of at Samboja Lestari since he was young

Swiss-Belhotel International Chairman and President, Gavin M. Faull explained “At SBI, we understand and contribute to the country, the culture, and the environment in which we manage.” He added, “Initially, we started this campaign to take a stand on the environmental concerns in Borneo, one of the areas where we operate. However, we realize that this is not a journey to be taken alone. Having QS and CCAI on board, will enable us to amplify the scale of this campaign and create a bigger impact”

#SAVEDODO campaign will start raising funds through specially designed Quiksilver #SAVEDODO T-shirt’s which will be on sale at selected Swiss-Belhotel International and Quiksilver outlets across Indonesia starting December 2015. The proceeds will be used for the rehabilitation of Dodo and other orangutans at the BOS Foundation facilities, as Jacqui Sunderland-Groves, Deputy CEO of the BOS Foundation mentioned “Through the purchase of the Quiksilver #SAVEDODO t-shirt, everyone can help to ensure the orangutans receive proper care and rehabilitation and the opportunity to be returned safely to the wild. With the recent devastating fires across Kalimantan many orangutans have suffered and the future survival of Bornean orangutans depends on urgent conservation action. Now more than ever, we need people to join hands and support orangutan conservation efforts.”

Fathia-Napri
Baby Fathia and Napri have rescued from the devastating fires during August – November 2015 in Central Kalimantan

“Quiksilver is a company that promotes a healthy boardriding lifestyle which is deeply reliant on clean beaches, streets and mountains.  In Bali, together with Coca-Cola Amatil Indonesia, we are actively working to clean the beaches which we have seen greatly improves the population growth of the local sea turtles.  We are now proud to be partnering with like-minded organizations to help support the Bornean orangutans as they face the difficulties of a changing world and we hope to make a difference.” said Sammy Gosling, Marketing Executive for Quiksilver Southeast-Asia

Addressing a similar view, Kristy Nelwan, Head of Corporate Communications Coca-Cola Amatil Indonesia also mentioned “Being a part of this #SAVEDODO campaign is an important step that all of us can take for the conservation of our natural forests. For CCAI, as a leading beverage sales, distribution, and manufacturing company in Indonesia for nearly 24 years, we understand the importance of participating and leading change for a more sustainable future.”

For only IDR 145,000 – IDR 245,000 per T-shirt, the public can contribute and ensure that Dodo and his friends continue to survive for generations to come. Gavin concluded by assuring “Today you have the opportunity to make a difference. We believe that every effort, no matter how small, can create positive change.”

_______________________

[1] Rijksen HD, Meijaard E. 1999. Our vanishing relative. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. 421 p.

[2] Wich, S.A., Meijaard, E., Marshall, A.J., Husson, S.J., Ancrenaz, M., Lacy, R.C., van Schaik, C.P., Sugardjito, J., Simorangkir, T., Traylor-Holzer, K., Doughty, M., Supriatna, J., Dennis, R., Gumal, M., Knott, C.D. and Singleton, I. (2008) Distribution and conservation status of the orang-utan (Pongo spp.) on Borneo and Sumatra: how many remain? Oryx, 42(3), 329–339

[:ID]

Jakarta, (28/11)—Populasi orangutan Borneo telah menurun hingga 75 persen sejak 1990[1], dan saat ini hanya terdapat sekitar 54.000 orangutan Borneo di alam liar[2]. Dengan terus menurunnya angka populasi orangutan, serta semakin terancamnya habitat mereka akibat maraknya perburuan liar dan perdagangan fauna ilegal, spesies asli Indonesia ini telah dikategorikan sebagai spesies langka.

Swiss-Belhotel International (SBI) bersama Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan dengan dukungan Quiksilver Indonesia (QS) dan Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI), mengambil langkah nyata dalam mencegah punahnya orangutan Borneo (Kalimantan) dengan menginisiasikan kampanye #SAVEDODO. Dengan mengusung Dodo, salah satu orangutan yang telah berhasil diselamatkan, untuk menjadi ikon, inisiatif ini diluncurkan untuk membantu masyarakat yang ingin berpartisipasi menyelamatkan orangutan di Borneo (Kalimantan).

Dodo 2
Dodo, maskot dalam kampanye #SAVEDODO, salah satu orangutan yang dirawat sejak kecil oleh tim BOS Foundation di Samboja Lestari

Swiss-Belhotel International Chairman & President, Gavin M. Faull menjelaskan “Di SBI, kami memahami dan berkontribusi terhadap negara, budaya, dan lingkungan hidup, di mana kami mengelola properti kami. Beliau menambahkan, “Pada awalnya, kami memulai kampanye ini untuk mengambil sikap atas masalah lingkungan hidup di Borneo (Kalimantan), salah satu area di mana kami beroperasi. Namun, kami menyadari bahwa ini bukanlah suatu langkah mudah yang dapat dijalankan sendiri. Dukungan QS dan CCAI, memungkinkan kami untuk memperkuat skala kampanye ini sehingga dapat menciptakan dampak yang lebih besar.”

Penggalangan dana untuk kampanye #SAVEDODO akan dilakukan melalui penjualan t-shirt #SAVEDODO yang dirancang khusus oleh QS dan mulai dijual per Desember 2015 di beberapa outlet SBI dan QS di seluruh Indonesia. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk rehabilitasi Dodo dan orangutan Borneo (Kalimantan) lainnya di fasilitas BOS Foundation. Seperti yang dijelaskan oleh Jacqui Sunderland-Groves, Deputy CEO BOS Foundation, “Melalui pembelian t-shirt #SAVEDODO, semua orang dapat membantu memastikan orangutan mendapatkan perawatan dan rehabilitasi yang memadai, serta kesempatan untuk dapat kembali ke habitatnya dengan selamat. Dengan terjadinya kebakaran hutan di Kalimantan belakangan ini, banyak orangutan menderita dan kelangsungan hidup mereka terancam, sehingga konservasi harus dilakukan dengan segera. Sekarang, lebih dari sebelumnya, kami memerlukan uluran tangan dari berbagai pihak untuk mendukung upaya konservasi orangutan.”

Fathia-Napri
Fathia dan Napri, dua bayi orangutan yang telah diselamatkan dari kebakaran hutan di Kalimantan Tengah pada bulan Agustus-November 2015 lalu

“Quiksilver merupakan perusahaan yang mempromosikan gaya hidup board riding sehat, yang bergantung penuh terhadap kebersihan pantai, jalanan, serta gunung. Di Bali, bersama Coca-Cola Amatil Indonesia, kami secara aktif membersihkan pantai-pantai, yang sebagai hasilnya, kami telah melihat bagaimana populasi penyu bertambah secara signifikan seiring dengan meningkatnya kebersihan pantai. Dalam kampanye #SAVEDODO ini, kami bangga dapat bekerja sama dengan organisasi-organisasi yang memiliki visi dan misi yang sama dalam mendukung kelestarian populasi orangutan, dan berharap dapat bersama-sama membuat perubahan,” ujar Sammy Gosling, Marketing Executive Quiksilver Southeast-Asia.

Menyampaikan pandangan yang serupa, Kristy Nelwan, Head of Corporate Communications Coca-Cola Amatil Indonesia, juga menyampaikan “Menjadi bagian dari kampanye #SAVEDODO merupakan langkah penting dalam berkontribusi dalam konservasi hutan kita. Bagi CCAI, sebagai perusahaan sales, produsen, dan distributor minuman ringan terkemuka yang telah beroperasi selama hampir 24 tahun di Indonesia, kami memahami pentingnya berpartisipasi dan membuat perubahan untuk masa depan yang berkelanjutan.”

Dengan hanya Rp.145.000 – Rp.245.000 per t-shirt, masyarakat dapat berkontribusi dan memastikan Dodo dan teman-temannya dapat terus bertahan hingga generasi yang akan datang. “Saat ini Anda memiliki kesempatan untuk membuat perubahan. Kami percaya bahwa setiap usaha, seberapa pun kecilnya, dapat membuat perubahan positif,” tutup Gavin.

_______________________

[1] Rijksen HD, Meijaard E. 1999. Our vanishing relative. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. 421 p.

[2] Wich, S.A., Meijaard, E., Marshall, A.J., Husson, S.J., Ancrenaz, M., Lacy, R.C., van Schaik, C.P., Sugardjito, J., Simorangkir, T., Traylor-Holzer, K., Doughty, M., Supriatna, J., Dennis, R., Gumal, M., Knott, C.D. and Singleton, I. (2008) Distribution and conservation status of the orang-utan (Pongo spp.) on Borneo and Sumatra: how many remain? Oryx, 42(3), 329–339

[:]

Five Orangutans Adapting Well in Kehje Sewen Forest

[:en]To ensure that the released orangutans are adapting well, the PRM (Post-Release Monitoring) team is regularly observing and collecting data on their behavior and assessing how they have adapted to their new life and habitat.

Our PRM team in Camp Nles Mamse have reported that after the release of Ajeng, Erica, Arief, Long, and Leonie they are all doing really well. (Read their profiles here: Samboja Lestari 6th Orangutan Release Candidate Profiles).

Ajeng

Ajeng has been basing most of her activities up in the trees and she has been an eager explorer. She also knows her natural foods very well and rattan shoots have so far been one of her favorites. Ajeng reportedly met Leonie eating forest fruits, but just continued on by, completely ignoring Leonie.

ribbet Ajeng
Ajeng

Erica

The PRM team has been finding it difficult to monitor Erica, as she tries to avoid us observing her by moving rapidly through the trees, stopping only to break off small branches and throw them down at us. This is a really good sign and is how wild orangutans behave – its great that she is trying to avoid humans. Erica is also eating well and has been frequently recorded eating rattan shoots and termites.

ribbet Erica by Bowo
Erica

Long and Arief

Long is still patiently accompanying her surrogate son, Arief, in Kehje Sewen Forest. Arief has been very active playing up in the trees, while his step mother Long, watches him nearby. Arief was observed accidentally bumping into a bees’ nest. He quickly hid behind Long to escape a few stings. Both climbed down to look for a safer place. As soon as it looked safe, the two went on looking for rattan shoots.

ribbet Arief
Arief
ribbet Long dan Arif
Long dan Arief

Leonie

Like Erica, Leonie appears to be completely avoiding humans. She kiss-squeaks everytime she notices one of our PRM team and moves quickly up into the trees. She does not range too far and sometimes seems quite content to sit back and relax on a tree branch. Leonie is also doing well foraging for natural foods.

ribbet Leonie
Leonie

We are delighted to see these five orangutans adapting well and living a happy life in their new home. We need to protect these orangutans and their habitat for years to come and we will continue to make sure they are able to live in a safe forest for the rest of their lives.

Text by: PRM team of Camp Nles Mamse, Kehje Sewen Forest

You can support our team and its monitoring activities too. Donate now to the BOS Foundation and keep our spirits high!

 [:ID]Untuk memastikan tingkat keberhasilan pelepasliaran orangutan, tim PRM (Post-Release Monitoring) kami secara rutin melakukan pencatatan data perilaku orangutan untuk memantau dan mengevaluasi proses adaptasi orangutan di habitat barunya.

Dari pemantauan Tim PRM kami di Kamp Nles Mamse, mengabarkan bahwa setelah Ajeng, Erica, Arief, Long, dan Leonie di lepasliarkan, mereka telah beradaptasi dengan baik di Selatan Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. (Baca profil mereka di sini: Profil Kandidat Pelepasliaran Orangutan Ke-6 Samboja Lestari) .

Ajeng

Di rumah sejatinya, Ajeng sangat aktif beraktivitas di atas pohon. Menjelajah hutan dari pohon ke pohon. Ajeng juga pandai mengenali pakan alaminya, di Hutan Kehje Sewen Ajeng suka sekali makan umbut rotan. Suatu hari di titik yang sama Ajeng berjumpa dengan Leonie yang sedang makan buah hutan, namun Ajeng tidak menghiraukan Leonie dan terus berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Ajeng terlihat begitu menikmati lingkungan barunya.

ribbet Ajeng
Ajeng

Erica

Saat melakukan pemantauan terhadap Erica, tim sempat kewalahan untuk mengikuti pergerakannya yang sangat aktif. Orangutan betina ini tampak ketakutan melihat kami yang terus mengikutinya; berpindah dari pohon ke pohon, beberapa kali ia juga mematahkan ranting dan meleparkan kepada kami. Ini merupakan perilaku orangutan liar saat melihat seseorang. Meski agak sulit mengikuti pergerakan Erica, kami sangat senang dengan perilakunya tersebut. Di rumah barunya, Erica juga beberapa kali terlihat sangat menikmati pakan alaminya seperti umbut rotan dan rayap.

ribbet Erica by Bowo
Erica

Long dan Arief

Long yan merupakan ibu asuh dari Arief masih terus bersama-sama menjalani kehidupan barunya di Hutan Kehje Sewen. Arief terlihat aktif bermain di atas pohon, sementara ibunya Long tidak jauh darinya terus mengawasi dan menjaganya. Suatu hari Arief terlihat tidak sengaja menyentuh sarang lebah. Tidak lama kemudian ia berlindung kepada Long, dan mereka pun turun ke bawah pohon tersebut, lalu kemudian mereka makan umbut rotan di tanah.

ribbet Arief
Arief
ribbet Long dan Arif
Long dan Arief

Leonie

Sama seperti Erica, saat kami mengikuti pergerakannya, Leonie tampak ketakutan saat kita terus memantau pergerakkannya, beberapa kali ia terus mengeluarkan kiss-squeak. Dari hari ke hari mengikuti pergerakan pasca di lepasliarkan, ia sangat aktif beraktivitas di atas pohon. Selain aktif menjelajah dari pohon ke pohon, Leonie juga tampaknya senang untuk bersantai berlama-lama di atas dahan pohon. Meskipun begitu, Leonie sangat pandai dalam mendapatkan pakan alaminya.

ribbet Leonie
Leonie

Kami senang melihat lima orangutan beradaptasi dengan baik dan hidup bahagia di rumah baru mereka. Kita perlu untuk melindungi orangutan dan habitatnya ini selama bertahun-tahun yang akan datang dan kami akan terus memastikan mereka dapat hidup di hutan yang aman untuk hidup mereka.

Teks oleh: Tim PRM Camp Nles Mamse, Hutan Kehje Sewen

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

[:]

Going Home For Christmas

[:en]

Towards the end of 2015, BOS Foundation released another four orangutans from the East Kalimantan Orangutan Reintroduction Program in Samboja Lestari to Kehje Sewen Forest, with the support of our partner organization, BOS Switzerland.

In early December, the release team in Samboja Lestari Forest School 2 started the first preparations for transporting the orangutans back to the forest. Meanwhile, team release in Kehje Sewen Forest reported that the weather was good and it looked like that day, Tuesday, 1 December 2015, would be perfect to reintroduce Hanung, Bungan, Joni and Teresa back to natural forest in Kehje Sewen.

Amongst the four, Bungan was considered the most difficult to sedate, so we focused on her first. She was not very cooperative as suspected and vet Agnes had the task on her hands. The first attempt was unsuccessful, but the second worked beautifully. Whilst waiting for Bungan to fall asleep, we started the same process with Hanung and Joni. The latter two were quick to sleep and were moved into their own transport cages following Teresa who was already safely in hers.

DSC06024_Joni and Technician Imam
Joni

Once the anesthetic began to take effect, Bungan was moved to her waiting transport cage ready to take her to Kehje Sewen.

Bungan
Bungan

Now all four were ready to go to the clinic, where the trucks awaited to take them to the forest.

After officially inaugurating our new Special Care Unit (SCU) facility at Samboja Lestari (read the full story here: Special Care Unit for Our Orangutans in Samboja Lestari), the Swiss Ambassador to Indonesia, Mrs. Yvonne Baumann together with the Director General of Natural Resources and Ecosystem Conservation of the Ministry of Environment and Forestry, Dr. Ir. Tachrir Fathoni symbolically released the four orangutans bound for Kehje Sewen, before the orangutans traveled 20 hours overland to the forest.

3 IMG_2624_RAD

 

 

4 IMG_2689_RAD

Into The Heart of Borneo

During the journey the orangutans were checked by our vets and technicians continuously and on Wednesday, 2 December 2015, 6 a.m., the orangutan release team arrived in Muara Wahau, the last town before Kehje Sewen Forest. Four hours later, the team stopped to switch to smaller pick-ups because the road was simply too difficult for the trucks to pass through. The orangutans were also moved from the large transport cages to smaller ones for efficiency.

 

5 Web

After the orangutan transfer to smaller, easier to carry transport cages was complete, Vet Agnes again examined the condition of four orangutans and gave them more fluids. Its a long final journey for our orangutans and we have to make sure they are as comfortable as possible during the entire process.

Vet Agnes Checking the orangutans
Vet Agnes Checking the orangutans

The journey recommenced. After 1 hour, the pick-up trucks reached the point where the road ends, 300 meters from Telen River. From here, the 4 orangutans had to be hand-carried down a very steep trail we dub the “Climb of Hell” for its extreme slope elevation to the bank of Telen River. Each cage was hung between two long bamboo sticks for easier carry. Even though the distance is only 300 meters, it took us about 1 hour to finish the whole cage-lifting process to the river bank.

7 Web

At the river bank, the Kehje Sewen release team took over and transported the cages safely across the river. The transport cages were moved using a small long boat, we call a “ces”. This is the easiest part of the trip and we took only 5 minutes to cross the river.

8 DSC03067_JS

Across the Telen river, a short yet steep climb waited. However, the difficult terrain did not discourage the team and we continued the climb to take these four orangutans back to their home.

9 DSC06185

On top of the hill, another two 4×4 pick-up trucks were waiting for the orangutans. Each truck can carry 2 cages plus release crews to the release points, about 2 kilometers away from Nles Mamse Camp in the southern part of Kehje Sewen.

10 Web

Slippery trails, as the result of heavy rain the night before, delayed us and it took 2 hours to reach the release points.

11 Web

Home Sweet Home

Hanung was the first to be released. Dr. Elisabeth Labes, Head of International Projects and Partner Relations, also one of the co-founders of BOS Switzerland had the honor of opening Hanung’s cage. Hanung seemed a bit disoriented and it took him a while before grabbed the nearest liana and started to climb higher and higher. Hanung was free!

Hanung was the first to be released.
Hanung was the first to be released

Next was Bungan, released by the BOS Foundation’s CEO, Dr. Ir. Jamartin Sihite. Unlike Hanung, Bungan did not waste her time. She quickly climbed up a Macaranga tree and started to eat the ripe fruit.

BOS Foundation's CEO, Dr. Ir. Jamartin Sihite opened Bungan’s cage.
BOS Foundation’s CEO, Dr. Ir. Jamartin Sihite opened Bungan’s cage

The Post-Release Monitoring (PRM) technician of the year in Nles Mamse Camp, Jafar, released Joni, who went straight to the nearest tree, joining Bungan.

Joni’s cage was opened by Jafar
Joni’s cage was opened by Jafar

Teresa’s transport cage was the last to be opened by Maria Ulfah, from our RHOI finance team. The beautiful Teresa also quickly dashed out and went to the nearest tree.

Teresa’s cage was opened by Maria Ulfah
Teresa’s cage was opened by Maria Ulfah

The PRM team then took over. Each orangutan is followed by two PRM technicians with task of observing and recording data on the orangutans activities each and every day until we assess they have adapted well to their new forest home. Later that night, we were glad to hear the results of the days monitoring.

Hanung found and ate fig fruit and young leaves and then he travelled around the area investigating his new home. Late afternoon, he built a nest in a Macaranga tree for a much deserved rest after a long journey. Right before he lay down, Hanung made a kiss-squeak showing his displeasure of human presence nearby, then called it a day.

Bungan fed on Macaranga, and Liana and Artocarpus bark, then quickly built a nest. When rain fell later in the day, she made an umbrella made of Macaranga leaves to protect her from the elements.

Similar to Bungan, Joni ate fig and Liana leaves, then quickly constructed a nest nearby to his feeding tree. Whilst Teresa fed everytime she moved to a new tree. Right before it got dark, Teresa built a nest of her own in a Macaranga tree.

The arrival of these new four orangutans brings the total number of orangutans released in Kehje Sewen to 40. Interestingly, Bungan and Teresa both originally came from the area around Kehje Sewen Forest. Bungan was handed over to BOS Foundation Samboja Lestari in 2007, by a local person from Samarinda who informed us that Bungan was found somewhere in Muara Wahau. Whilst Teresa was confiscated by BKSDA Tenggarong from a local person in Muara Wahau, and then handed over to the BOS Foundation team at Samboja Lestari in 2010. Both are now literally back where they belong. The difference being that the area they now reside in is safe and focused on long-term orangutan conservation.

Hanung, Bungan, Joni and Teresa have a new life in the forest. The new life they deserve and are entitled to, a life of freedom. From now on, the Kehje Sewen is their new home.

Welcome to your new home!

Text by: Paulina L. Ela, Communication Specialist

You can support our team and its monitoring activities too. Donate now to the BOS Foundation and keep our spirits high!

[:ID]

Di penghujung tahun 2015 ini, BOS Foundation (BOSF) melepasliarkan empat orangutan Kalimantan Timur dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen, atas dukungan dari BOS Switzerland yang merupakan mitra BOSF.

Di awal bulan Desember, tim rilis di Sekolah Hutan 2 (SH 2) Samboja Lestari memulai proses pembiusan sebagai tahap awal pelepasliaran orangutan. Sementara tim di Hutan Kehje Sewen melaporkan bahwa cuaca juga cerah di sana. Sepertinya hari itu, Selasa 1 Desember 2015 akan menjadi hari baik untuk mengantar Hanung, Bungan, Joni dan Teresa pulang ke rumah sejati mereka di belantara Kehje Sewen.

Di antara keempat orangutan ini, Bungan adalah orangutan yang paling sulit dibius, sehingga pembiusan pertama dilakukan terhadapnya. Ia selalu bergerak ke sana kemari dan drh. Agnes bertanggung jawab atas pembiusan ini. Percobaan pertama tidak berhasil, namun pembiusan berhasil dilakukan pada percobaan kedua. Sambil menunggu Bungan tertidur, kami melaksanakan proses pembiusan terhadap Hanung dan Joni. Tidak perlu menunggu lama keduanya langsung tertidur, dan segera dipindahkan menyusul Teresa yang telah lebih dahulu dipindahkan ke kandang transportnya.

DSC06024_Joni and Technician Imam
Joni

Setelah tertidur, Bungan dipindahkan ke kandang transportnya yang sudah siap untuk membawa ia dan ketiga temannya ke Hutan Kehje Sewen.

Bungan
Bungan

Kini semua sudah siap untuk dibawa ke klinik, di mana truk sudah menunggu untuk membawa mereka ke hutan.

Setelah membuka secara resmi fasilitas Special Care Unit (SCU) di Samboja Lestari (baca cerita lengkapnya di sini: Special Care Unit Bagi Orangutan di Samboja Lestari), Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Ibu Yvonne Baumann dan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bapak Dr. Ir. Tachrir Fathoni berkenan melepas secara simbolis empat orangutan yang diberangkatkan untuk dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, menempuh perjalanan selama sekitar 20 jam untuk kembali menemukan kebebasan di Hutan Kehje Sewen.

3 IMG_2624_RAD

 

 

4 IMG_2689_RAD

Menuju Jantung Borneo

Di sepanjang perjalanan, kondisi orangutan dan kandangnya secara teratur diperiksa oleh dokter hewan dan para teknisi kami, dan pada Rabu, 2 Desember 2015 pukul 6 pagi, tim orangutan rilis tiba di Muara Wahau, kota terakhir sebelum menuju ke Hutan Kehje Sewen. Setelah 4 jam perjalanan, tim berhenti karena truk yang membawa kandang-kandang transport kandidat orangutan rilis ini tidak lagi bisa lewat dan para orangutan harus dipindahkan ke mobil bak terbuka. Keempat kandidat orangutan rilis juga dipindahkan ke kandang transport kecil, tujuannya agar lebih mudah diangkut oleh tim.

 

5 Web
Pemindahan Keempat orangutan ke kandang transport kecil

Setelah pemindahan para orangutan selesai, drh. Agnes kembali mengecek kondisi keempat orangutan dan memberi mereka minum. Tahap perjalanan berikutnya adalah yang terakhir dan tersulit, kami harus memastikan para orangutan ini berada dalam kondisi senyaman mungkin selama proses berlangsung.

Vet Agnes Checking the orangutans
drh. Agnes melakukan cek terakhir terhadap orangutan

Akhirnya perjalanan darat ke belantara Kehje Sewen dilanjutkan. Setelah 1 jam perjalanan, mobil bak terbuka mencapai ujung jalan, sekitar 300 m dari Sungai Telen. Dari sini, ke-4 orangutan harus diangkut melalui tebing terjal yang kami juluki “Tanjakan Neraka” karena sudut kemiringannya yang ekstrim, ke tepi Sungai Telen. Sebelumnya kandang-kandang transport ini harus dipasangi bambu untuk memudahkan pengangkutan menuruni tanjakan. Meskipun “Tanjakan Neraka” hanya berjarak 300m, butuh lebih dari 1 jam untuk mengangkut empat kandang sampai ke tepi sungai.

7 Web
Pengangkutan kandang-kandang transport ke tepi Sungai Telen

Dari tepi sungai, tim Kehje Sewen mengambil alih untuk menyeberangkan dan membawa orangutan menyeberangi sungai. Kami menggunakan perahu motor, biasa disebut dengan “ces”. Ini adalah bagian perjalanan tersingkat dan termudah, kami hanya butuh 5 menit untuk menuntaskannya.

8 DSC03067_JS
Menyeberangi Sungai Telen

Di seberang Sungai Telen, tanjakan terjal namun untungnya pendek, kembali menanti. Sulitnya medan yang ditempuh tidak menyurutkan semangat tim untuk segera membawa keempat orangutan ini menuju kebebasan mereka.

9 DSC06185

Di puncak bukit, telah menanti dua buah mobil bak terbuka berpenggerak empat roda untuk mengangkut dua kandang sekali jalan menuju ke titik rilis, 2 km jauhnya dari Camp Nles Mamse di Selatan Kehje Sewen.

10 Web

 

Jalan yang licin setelah hujan deras mengguyur Hutan Kehje Sewen malam sebelumnya ternyata menghabiskan waktu sampai kami bisa mencapai titik tujuan. Sekali jalan kami tempuh selama sekitar 2 jam.

11 Web
Menuju titik-titik pelepasliaran orangutan

HOME SWEET HOME

Hanung adalah orangutan yang pertama kali dilepasliarkan. Dr. Elisabeth Labes, Kepala Proyek Internasional, Hubungan Mitra, dan salah satu Pendiri BOS Switzerland membuka kandang transport Hanung yang terlihat bingung ketika pertama kali keluar dari kandang. Tak lama kemudian ia memanjat pohon liana yang ada di dekat titik rilisnya, lebih tinggi dan tinggi lagi. Hanung telah bebas!

Hanung was the first to be released.
Hanung pertama kali dilepasliarkan

Selanjutnya adalah Bungan yang dilepasliarkan oleh CEO BOS Foundation, Dr. Ir. Jamartin Sihite. Tidak seperti Hanung, Bungan tidak membuang-buang waktunya. Dia segera memanjat pohon Macaranga dan langsung makan buahnya.

BOS Foundation's CEO, Dr. Ir. Jamartin Sihite opened Bungan’s cage.
CEO BOS Foundation, Dr. Ir. Jamartin Sihite membuka kandang transport Bungan

Teknisi Post Release Monitoring (PRM) terbaik 2015 di Camp Nles Mamse, Jafar, membuka kandang transport Joni yang langsung naik ke pohon mengikuti rekannya Bungan yang sudah bebas.

Joni’s cage was opened by Jafar
Jafar membuka kandang Joni

Yang terakhir, kandang transport Teresa dibuka oleh Maria Ulfah, staf Keuangan RHOI. Si cantik Teresa segera meluncur keluar kandang menuju ke pohon terdekat dan memanjatnya.

Teresa’s cage was opened by Maria Ulfah
Maria Ulfah membuka kandang Teresa

Tim PRM segera melaksanakan tugas mereka. Masing-masing orangutan diikuti oleh dua orang yang bertugas mengamati dan mengumpulkan data setiap hari untuk memastikan mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Malam harinya, kami semua sangat senang mendengar laporan hasil pengamatan keempat orangutan ini.

Hanung makan buah dan daun muda Ficus sp., setelah merasa kenyang ia berjalan mengelilingi area di dekat titik rilisnya untuk lebih mengenali rumah barunya. Sore hari ia membuat sarang di pohon Macaranga untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Sebelum beristirahat ia melakukan kiss-squeak menunjukkan ketidaksukaan dengan keberadaan manusia di sekitarnya sekaligus ingin mengatakan sudah saatnya ia beristirahat.

Lain Hanung lain pula Bungan, setelah merasa cukup makan buah Macaranga, kulit kambium Liana dan Artocarpus, ia langsung membuat sarang untuk istirahat. Ketika hujan turun, ia membuat payung dari daun Macaranga.

Joni juga melakukan hal yang sama dengan Bungan. Setelah kenyang makan daun Ficus sp dan liana, ia langsung membuat sarang di dekat pohon pakannya. Sementara Teresa selalu makan setiap kali ia berpindah pohon. Sampai akhirnya hari mulai gelap, ia pun membuat sarang di pohon Macaranga.

Dengan tambahan empat orangutan ini, total orangutan yang berhasil dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen adalah 40 orangutan. Yang menarik adalah, Bungan dan Teresa, merupakan orangutan yang berasal dari area sekitar Hutan Kehje Sewen. Bungan diserahkan ke BOSF di Samboja Lestari pada 2007 oleh seorang warga Samarinda yang mengatakan bahwa ia menemukan Bungan di daerah Muara Wahau. Sementara Teresa disita oleh BKSDA Tenggarong dari seorang warga di Kecamatan Muara Wahau, lalu diserahkan ke BOSF di Samboja Lestari pada 2010. Keduanya akhirnya “pulang kampung” ke area tempat mereka berasal. Hanya kini, mereka pulang ke hutan yang lebih aman dan lebih layak bagi upaya pelestarian dalam jangka panjang.

Hanung, Bungan, Joni, dan Teresa telah mendapatkan kehidupan baru di hutan. Sebuah kehidupan yang layak untuk mereka, kehidupan yang penuh kebebasan. Belantara Kehje Sewen adalah rumah baru mereka.

Selamat datang di rumah baru kalian!

Teks oleh: Paulina L. Ela, Spesialis Komunikasi

Kamu bisa mendukung tim kami dan kegiatan pemantauannya. DONASI SEKARANG ke Yayasan BOS dan bantu kami untuk tetap semangat!

[:]

Special Care Unit for our Orangutans in Samboja Lestari

[:en]Very sadly not all of the orangutans within our rehabilitation centers can be released back to the wild. Orangutans arrive at our centers of all ages and in all kinds of conditions. Some orangutans are disabled, some have contracted human diseases, which they would not have encountered in the wild, and some have spent too long in captivity to be able to learn how to survive in natural habitat.

At the BOS Foundation Samboja Lestari Orangutan Rehabilitation Program in East Kalimantan, we have a number of individuals which can never be released back to the wild due to illness. So we can keep those individuals safely separated and cared for from the main population, we have developed a new facility which will provide these orangutans with the care and welfare they need for the rest of their lives.

kopral-shelton1
Kopral & Shelton are two very special orangutans who require extra love and care. Due to their disabilities caused by horrible tragedies, neither can be released back into the wild.

Thanks to funds raised through one of our partner organisations, BOS Switzerland, the BOS Foundation have been busy constructing a new Special Care Unit (SCU) within a 5500 m2 square area, with capacity to accommodate 40 individuals. Construction began in May and is now complete. With additional support from our Australian partner, BOS Australia, the SCU is fully fitted with special enrichment equipment including rubber ropes, hammocks, platforms and other items to ensure our orangutans are as comfortable and stimulated as possible. BOS Australia have also provided support to construct a special waste water system which is in the final stage of completion.

IMG_0845 a

Last Tuesday, we were delighted to welcome both the Swiss Ambassador to Indonesia, Mrs. Yvonne Baumann and the Director General of Natural Resources and Ecosystem Conservation, Dr. Ir. Tachrir Fathoni to Samboja Lestari where they formally opened the new Special Care Unit.

IMG-20151201-WA005

Tree Planting and Release

Ambassador Baumann is known for her deep concern of environmental issues and the Swiss Embassy recently supported the replanting of a 5 hectare area in Samboja devastated by fire.

IMG_0384

Having opened our Special Care Unit, Ambassador Baumann and the Director General, Dr. Fathoni, then symbolically released four of our orangutans who were directly transported to Kehje Sewen Forest. The four orangutans, Joni, Hanung, Bungan and Teresa, travelled for around 20 hours overland before being reintroduced into Kehje Sewen.

IMG-20151201-WA021

Look out for our next story on Joni, Hanung, Bungan and Teresa’s release!

Text by: BOSF Communications Team

You can make a difference right now by showing your support for orangutan conservation and help save orangutans! DONATE NOW

[:ID]Sangat disayangkan, tidak semua orangutan yang dirawat di pusat rehabilitasi kami bisa dilepasliarkan kembali ke hutan. Orangutan datang ke pusat rehabilitasi kami dalam berbagai usia dan kondisi. Ada yang cacat, ada yang sudah terpapar penyakit yang tidak teradapat di alam liar, dan ada yang terlalu lama dipelihara manusia sehingga tidak akan sanggup bertahan hidup di alam liar.

Di Pusat Reintroduksi Orangutan Samboja Lestari milik BOS Foundation, Kalimantan Timur, kami memiliki sejumlah orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan karena sakit. Untuk dapat merawat mereka ini dengan aman dan terpisah dari populasi lain yang sehat, kami membangun sebuah kompleks khusus yang menyediakan perawatan terbaik bagi para orangutan ini di sisa hidup mereka.

kopral-shelton1
Kopral & Shelton dua orangutan istimewa yang sangat membutuhkan cinta dan perawatan ekstra. Karena kecacatan mereka yang disebabkan oleh tragedi yang mengerikan, keduanya tidak dapat dilepaskan kembali ke alam liar.

Berkat bantuan dana yang digalang oleh salah satu mitra kami, BOS Swiss, BOS Foundation sanggup membangun sebuah Special Care Unit di tanah seluas 5.500 meter persegi, dan mampu menampung 40 individu. Pembangunan dimulai Mei 2015 lalu dan kini telah sempurna. Dengan dukungan tambahan dari BOS Australia, SCU ini dilengkapi berbagai instrumen pengayaan seperti tali karet, tempat tidur gantung, platform, dan lain-lain untuk memastikan orangutan kami nyaman dan terus terpacu untuk mempelajari hal baru. BOS Australia juga membantu membangun sistem pengolahan limbah air yang kini berada dalam tahap akhir pengerjaan.

IMG_0845 a

Pada hari Selasa lalu, kami menyambut gembira kedatangan Duta Besar Swiss, Ibu Yvonne Baumann dan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bapak Dr. Ir. Tachrir Fathoni di Samboja Lestari untuk meresmikan fasilitas SCU ini.

IMG-20151201-WA005

Saat menginspeksi bangunan kompleks, para tamu dan undangan mendapatkan gambaran baru mengenai jalannya proses rehabilitasi orangutan. Terbatasnya ruangan kompleks membawa kita semakin memahami kebutuhan orangutan untuk ruang terbuka dan hidup kembali di habitatnya, hutan.

Penanaman Pohon dan Rilis

Ibu Duta Besar Baumann memang dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap berbagai isu terkait lingkungan, dan Kedutaan Besar Swiss di Jakarta mendukung upaya penanaman kembali lahan seluas 5 hektar di Samboja Lestari yang rusak akibat kebakaran.

IMG_0384

Setelah membuka secara resmi SCU kami, beliau bersama Dirjen Tachrir berkenan melepas secara simbolis 4 orangutan yang diberangkatkan untuk dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen. Keempatnya adalah Joni, Hanung, Bungan, dan Teresa, menempuh perjalanan selama sekitar 20 jam untuk bisa menemukan kembali kebebasan di Kehje Sewen.

IMG-20151201-WA021

Nantikan kisah perjalanan Joni dan kawan-kawan dalam cerita kami selanjutnya!

Teks oleh: Tim Komunikasi BOSF

Kamu bisa membuat perubahan sekarang juga dengan mendukung konservasi orangutan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

[:]

CANDIDATE PROFILES of SAMBOJA LESTARI’s 7th ORANGUTAN RELEASE

[:en]

As 2015 draws to an end, the BOS Foundation releases 4 orangutans from the East Kalimantan Orangutan Reintroduction Program in Samboja Lestari to Kehje Sewen Forest.

 

JONI

Joni

Joni is a male, confiscated by BKSDA area II in Tenggarong from a local resident in Samarinda, East Kalimantan. Then, he was handed over by BKSDA to Samboja Lestari to undergo rehabilitation process. He began his rehabilitation process on March 11, 2014 when he was 6 years old.

After a year in the rehabilitation center, Joni has become a student of level 2 Forest School known for his independent nature and exploring skills. He is a very active moving around trees and exceptionally good at foraging. Joni would also spend nights at the forest.

This black-thin-haired attractiove male orangutan is now 7 years old and weighs 21 kg. It is time for him to prove and apply them as a true wild orangutan in Kehje Sewen Forest.

HANUNG

Hanung

Hanung was submitted to Samboja Lestari on June 28 2007 after handed over by a Balikpapan resident. Post quarantine period, Hanung join the Forest School group to regain his natural abilities and behavior.

This male with thin dark brown hair and a thick reddish beard is a friendly character and loves to mingle with others. He is very active and roams the forest intensively. However friendly Hanung is, he does not like to get annoyed of have his food snatched by others.

Now, Hanung is 9 years old and weighs 31 kg. This fierce looking orangutan will be shortly departs for Kehje Sewen Forest, where he will become a true wild orangutan.

TERESA

Teresa

Teresa is a female who was confiscated by BKSDA area II in Tenggarong from a local resident in Muara Wahau sub-district, East Kalimantan on June 18 2010. When handed over to Samboja Lestari, she was 2 years old and started her rehabilitation process in Samboja Lestari by joining the Forest School.

Skills on building nests, identify natural predators, and foraging have been well-mastered by Teresa. Her curiousity also helps her to become active and exploring corners of Forest School in Samboja Lestari.

This beautiful female orangutan is 7 years old now and weighing 29 kg. After five years of rehabilitation process in Samboja Lestari, Teresa would get a new chance to enjoy her freedom as a true wild orangutan. The upcoming release activities is literally a homecoming trip for Teresa and Bungan; they will be going home.

BUNGAN

Bungan

Bungan was submitted to Samboja Lestari on May 24 2007 after handed over by a resident of Muara Wahau sub-district. At that time, this female orangutan was 1 year old.

Bungan has grown into an independent and strong female orangutan. Bungan’s skills grew rapidly in Forest School. She is intelligent in choosing natural foods, building nests and she spends most of her time in the trees. She likes to teach younger orangutans.

This beautiful dark-brown-haired Bungan is now 9 years old and weighs 32 kg. For the last eight years in Samboja Lestari, Bungan has learned many forest-survival skills. She is now only days away from starting her new life as a true wild orangutan in the Kehje Sewen Forest. The upcoming release activities is literally a homecoming trip for Bungan who loves to play with water alongside her best buddies, Hanung and previously released Leonie and long.

 [:ID]

Di penghujung tahun 2015 ini, Yayasan BOS melepasliarkan 4 orangutan Kalimantan Timur dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen

JONI

Joni

Joni adalah orangutan jantan yang disita Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah II di Tenggarong dari seorang warga di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia diserahkan ke Samboja Lestari untuk menjalani proses rehabilitasi pada 11 Maret 2014 saat usianya 6 tahun.

Satu tahun menjalani rehabilitasi di BOS Foundation Samboja Lestari, Joni menjadi siswa Sekolah Hutan Level 2 yang mandiri dan dikenal sebagai penjelajah yang handal. Ia sangat aktif beraktivitas di atas pohon dan sangat pandai dalam mengenali pakan alaminya. Joni juga seringkali bermalam di hutan.

Orangutan jantan yang menawan dengan rambut tipis berwarna coklat kehitaman ini kini berusia 7 tahun dengan berat badan 21 kg. Kini tinggal menghitung hari untuk membuktikan kemampuan dan kemandiriannya sebagai orangutan liar sejati di Hutan Kehje Sewen.

HANUNG

Hanung

Hanung masuk ke Samboja Lestari pada tanggal 28 Juni 2007, setelah diserahkan oleh seorang warga di Balikpapan. Saat itu orangutan jantan ini masih berusia 1 tahun. Selepas masa karantina, Hanung mengikuti grup Sekolah Hutan untuk mendapatkan kembali kemampuan dan perilaku alaminya.

Orangutan jantan dengan rambut tipis berwarna coklat kehitaman dan memiliki janggut tebal berwarna kemerahan ini mudah bergaul dengan orangutan lainnya dan suka bila sedang berkumpul dengan teman-temannya. Ia sangat aktif dan suka menjelajah. Meskipun ramah, ia tidak suka bila ada orangutan lain yang mengganggu atau merebut makanannya.

Hanung kini berusia 9 tahun dengan berat badan 31 kg. Orangutan jantan yang memiliki tatapan mata yang tajam dan berwibawa ini akan segera berangkat ke Hutan Kehje Sewen untuk menjalani hidup barunya sebagai orangutan liar sejati.

TERESA

Teresa

Teresa adalah orangutan betina yang disita oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Wilayah II di Tenggarong dari seorang warga Kecamatan Muara Wahau, Kalimantan Timur pada tanggal 18 Juni 2010. Saat tiba di Samboja Lestari, usianya 2 tahun, dan mengawali proses rehabilitasi di Samboja Lestari dengan belajar di Sekolah Hutan.

Pelajaran membuat sarang, mengenal musuh alami, dan mencari pakan alami telah dikuasai dengan baik oleh Teresa. Selain itu rasa ingin-tahunya yang besar membuatnya aktif menjelajahi sekolah hutan di Samboja Lestari.

Orangutan yang memiliki paras cantik ini kini berusia 7 tahun dengan berat badan 29 kg. Setelah 5 tahun menjalani proses rehabilitasi di Samboja Lestari, Teresa akan mendapatkan kesempatan menikmati kebebasan sejati sebagai orangutan yang sebenarnya. Teresa dan Bungan akan segera “pulang kampung”!

BUNGAN

Bungan

Bungan masuk ke Samboja Lestari pada tanggal 24 Mei 2007, setelah diserahkan oleh seorang warga di Kecamatan Muara Wahau, Kalimantan Timur. Saat itu orangutan betina ini masih berusia 1 tahun.

Bungan tumbuh menjadi orangutan betina yang mandiri dan tangguh. Kemampuan Bungan di Sekolah Hutan cepat berkembang. Ia pintar memilih pakan alaminya, membuat sarang, dan banyak beraktivitas di pepohonan. Ia seringkali mengajari orangutan yang lebih muda darinya.

Bungan yang memiliki paras cantik dengan rambut tebal berwarna coklat kehitaman ini kini berusia 9 tahun dengan berat badan 32 kg. Selama delapan tahun tinggal di Samboja Lestari, Bungan telah mempelajari banyak ketrampilan bertahan hidup di hutan. Kini tinggal menghitung hari untuk membuktikan kemampuan dan kemandiriannya sebagai orangutan liar sejati di Hutan Kehje Sewen. Bungan yang gemar bermain air ini akan “pulang kampung” bersama sahabatnya Hanung dan berkumpul kembali dengan Leonie dan Long yang sudah lebih dulu dilepasliarkan.

[:]

[PRESS RELEASE] BOS Foundation Inaugurates a Special Care Unit and Simultaneously Releases 4 Orangutans in East Kalimantan

[:en]

As 2015 draws to an end, the BOS Foundation inaugurates a new facility, a Special Care Unit, built with support from BOS Switzerland, a partner of the BOS Foundation, and releases 4 orangutans from the East Kalimantan Orangutan Reintroduction Program in Samboja Lestari to Kehje Sewen Forest.

IMG_0845 a

Samboja Lestari, East Kalimantan, 1 December 2015. Support for orangutan and habitat conservation efforts are received from around the globe. People from Switzerland have joined this effort and significantly contributed in responding to the call for help to conserve the only great ape species found in Asia.

Financial support was received from BOS Switzerland, a partner of the BOS Foundation, for the East Kalimantan Orangutan Reintroduction Program in Samboja Lestari (Samboja Lestari) which has enabled the construction of a Special Care Unit (SCU) with capacity to house 50 individual orangutans, together with support for our orangutan release events; and other conservation related activities in the Kehje Sewen Forest which is managed by PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (PT RHOI).

It is estimated that around 10% of the orangutans under the care of the BOS Foundation are unreleaseable due to various conditions, such as illness, disabilites, or insufficient wild behavior as a consequence of extensive human contact whilst held in illegal captivity prior to their arrival in Samboja Lestari. These conditions sadly mean they would not be able to survive in the wild.

The BOS Foundation is committed to ensuring that these orangutans will be given the best possible care in a suitable environment. The BOS Foundation has been planning this facility for more than six years and thankfully, funds made available by their partner BOS Switzerland, has finally made this a reality.

The construction of this new facility commenced in May and is now ready for operation. The SCU will be inaugurated on 1 December 2015, is equipped with various enrichment facilities with the purpose of stimulating intelligence and providing various foods in novel ways to ensure the orangutans are continuously learning. In addition, BOS Australia, also a partner of the BOS Foundation, has provided support to fund a special waste water management system to ensure the wellfare of our orangutans. The unreleaseable orangutans will be transferred from their existing enclosure to the new SCU immediately.

The Swiss Ambassador to Indonesia, Mrs. Yvonne Baumann, attends the inauguration ceremony out of her deep concern of environmental issues and passion to observe and learn all aspects of orangutan conservation activities in which the BOS Foundation engages and show support as the representative of the Swiss government in Indonesia towards orangutan conservation. During this visit, Ambassador Baumann will also inaugurate the Special Care Unit which was built through the support of BOS Switzerland.

Yvonne Baumann, Swiss Ambassador to Indonesia said, “In order to conserve endangered species such as orangutans, we need significant commitment from all parties involved. This year, the Swiss Embassy in Indonesia has helped fund a 5 hectare replanting program within Samboja Lestari in a area devasted by fire outbreaks just weeks ago. Today, I am delighted to finally be able to see the important work of the BOS Foundation.”

Dr. Ir. Jamartin Sihite, BOS Foundation CEO said, “We warmly welcome Ambassador Baumann and thank her deep interest in the BOS Foundation and the orangutan conservation efforts we are implementing. Her presence here as the representative of the Swiss government in Indonesia shows goodwill in supporting our orangutan conservation activities.”

“We still bear the responsibility to ensure the wellfare of all orangutans under our care within our reintroduction centers, including those individuals who can never be returned to the wild. We have already released many orangutans back to natural forest, but this is a huge task and we still have hundreds of orangutans ready and waiting for release., We call on everyone to help support this effort. The government, in this case, the East Kalimantan BKSDA and related authorities have given us much support, however we still need commitments from the local government of East Kutai and Kutai Kertanegara regencies to help and take real action in protecting the orangutans we have released through strict law enforcement to ensure the long-term preservation and protection of orangutans and habitat in East Kalimantan,” Dr. Sihite adds.

The General Director of Natural Resources and Ecosystem Conservation (Dirjen KSDAE) of the Ministry of Environment and Forestry, Dr Ir Tachrir Fathoni, responded by saying, “Conservation of orangutans and their habitat is our common responsibility. Orangutans are protected by law. Their population within rehabilitation centers is still huge and we need to return them back to the forest, once they are ready for release. The Ministry of Environment and Forestry enthusiastically supports all aspects of orangutan and habitat conservation effort. It is our common duty, both the central and local government and the good people of East Kalimantan to take care of and preserve our forests. Our success towards protecting endangered animals and their habitat detemines what the next generation will inherit from us.”

Parallel to the inauguration of the SCU, the BOS Foundation also releases four individual orangutans from Samboja Lestari. These four individuals, comprising of two males and two females, will start the release journey overland for two days from Samboja Lestari to the release area in Kehje Sewen Forest in Kutai Timur and Kutai Kartanegara regencies, East Kalimantan.

DSC_0631 a

From 2012 to date, the BOS Foundation Samboja Lestari Program has released 36 orangutans back to their natural habitat in Kehje Sewen Forest. The number now changes with the release of four more individuals, to 40 orangutans which have been returned to the forest.

Interestingly the two female orangutan candidates, Teresa and Bungan, both came from forest areas around Kehje Sewen Forest. Teresa was confiscated by BKSDA Tenggarong from a local person in Muara Wahau and handed over to BOS Foundation in 2010. Whilst Bungan arrived even earlier, in 2007 through a handover from a local resident of Samarinda who said that the baby was also found in Muara Wahau. Now, 7 year-old Teresa and 9 year-old Bungan are ready to go home where they belong. Though, this time the area they will be released into is much safer and more suitable for their long-term conservation.

Drh. Agus Irwanto, Samboja Lestari Program Manager says, “We are proud to be able to release four more orangutans. This has been a long wait for them to return to natural habitat. These orangutans belong to the government and have been entrusted to us and we have rehabilitated them for several years. I hope that this will be the beginning of a wonderful journey for them to live in natural habitat, just like the orangutans we have previously released.”

Dr. Aldrianto Priadjati, the Conservation Director of PT RHOI adds, “We face a constant challenge to ensure that our rehabilitated orangutans are ready for release, and that the orangutans we have already released can adapt well and reproduce in natural habitat. Furthermore, we are still trying to obtain other orangutan release areas under the Ecosystem Restoration Concession scheme, both in East and Central Kalimantan. We desperately need support from all parties and stakeholders to help ensure all the orangutans currently in our rehabilitation centers can be released as soon as possible.”

Dr. Elisabeth Labes, Co-founder, Head of International Projects and Partner Relations for BOS Switzerland says: “Unfortunately, under specific circumstances, orangutans cannot be released back into the wild. We have to make sure that these individuals receive the best possible care since they will have to live in the care of BOS Foundation for the rest of their lives. I am very happy that BOS Switzerland has been able to provide the funds for the construction of such an important facility. It is a special honour for us that the Ambassador of our country, Yvonne Baumann, will attend the inauguration of the new Special Care Unit and that the Embassy of Switzerland has given their generous support for the replanting of 5 hectares of forest after the recent devastating fires in Samboja Lestari.”

This release is conducted through the collaboration of the East Kalimantan BKSDA, Provincial Government of East Kalimantan, government of East Kutai and Kutai Kartanegara regencies, as well as the people of East Kutai and Kutai Kartanegara regencies. The BOS Foundation is extremely grateful for the moral and financial support from BOS Switzerland, individual donors, other partners and organizations around the world concerned with orangutan conservation efforts in Indonesia.

Contact:

Paulina Laurensia

Communication Specialist

Email: pauline@orangutan.or.id

Suwardi

Communication Staff Samboja Lestari

Email: ardy@orangutan.or.id

*****************

Editor’s Note:

ABOUT BOS FOUNDATION

Founded In 1991, the BOS Foundation is a non-profit Indonesian organization dedicated to conservation of Bornean orangutan and its habitat, working together with local communities, the Ministry of Environment and Forestry of the Republic of Indonesia and international partner organizations.

Currently the BOS Foundation is rehabilitating more than 700 orangutans with the support from 400 highly dedicated staff and experts in primatology, biodiversity, ecology, forest rehabilitation, agroforestry, community empowerment, communications, education, and orangutan welfare. For further informations please visit www.orangutan.or.id.

 

ABOUT PT RHOI

PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) is a company that was established by the BOS Foundation on April 21, 2009, solely to acquire the Utilization of Forest Timber Products through Restoration of the Ecosystem (IUPHHK-RE), also known as an Ecosystem Restoration Concession (ERC).

As a non-profit organization the BOS Foundation is not allowed to apply for this license due to government regulations. Hence, RHOI was established. This permit enables RHOI authority on managing a concession area—in this case, a forest area—the most important aspect in an orangutan release process.

On August 18, 2010, RHOI was issued an ERC permit, giving them the authority to use and manage 86,450 hectares of rainforest in East Kutai and Kutai Kertanegara Regencies, East Kalimantan. This concession provides a sustainable and secure habitat for orangutans for at least 60 years, with the option of extending for another 35 years. Issued by the Ministry of Forestry, this ERC license cost around US$1.4 million, which was funded by generous donations from donors and the BOS Foundation’s partner organizations in Europe, Australia and the USA.

RHOI named this forest Kehje Sewen, which translates as ‘orangutan’ in the local Dayak Wehea dialect. By name and nature, the Kehje Sewen Forest became a forest for orangutans. For more information, please visit www.theforestforever.com.[:ID]

Di penghujung tahun 2015 ini, Yayasan BOS meresmikan fasilitas baru, Special Care Unit, yang dibangun atas dukungan dari BOS Switzerland yang merupakan mitra Yayasan BOS, sekaligus melepasliarkan 4 orangutan Kalimantan Timur dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke Hutan Kehje Sewen.

IMG_0845 a

Samboja, Kalimantan Timur, 1 Desember 2015. Dukungan atas upaya konservasi orangutan dan habitatnya datang dari berbagai pelosok dunia. Masyarakat negara Swiss juga bergabung dalam upaya ini dan merasa terpanggil untuk membantu melestarikan satu-satunya spesies kera besar yang ada di Asia ini.

Dukungan dana kami terima melalui BOS Swiss, lembaga mitra Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), dan disalurkan kepada Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari (Samboja Lestari) yang kemudian direalisasikan berupa pembangunan Special Care Unit (SCU) berkapasitas 40 individu orangutan, kegiatan pelepasliaran orangutan, serta beberapa kegiatan lainnya terkait pelestarian orangutan di Hutan Kehje Sewen yang dikelola oleh PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI).

Diperkirakan sekitar 10% orangutan di Yayasan BOS tidak dapat dilepasliarkan atau disebut unreleaseable karena berbagai kondisi, di antaranya karena mengidap penyakit, cacat tubuh, atau perilaku liar yang sangat minim akibat terlalu lama dipelihara manusia sebelum menjalani proses rehabilitasi di Samboja Lestari. Kondisi ini membuat mereka tidak akan bisa bertahan hidup di hutan.

Yayasan BOS telah berkomitmen untuk memberikan prangutan-orangutan ini perawatan terbaik dalam lingkungan yang sesuai. Yayasan BOS telah merencanakan fasilitas sejak enam tahun lalu, dan dengan dana yang disediakan oleh mitra kami BOS Swiss, membuat hal ini terwujud nyata.

Pembangunan SCU ini dimulai pada bulan Mei dan kini telah siap untuk beroperasi. Kompleks yang diresmikan tanggal 1 Desember 2015 ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas pengayaan (enrichment) untuk merangsang kecerdasan mereka sekaligus memberikan beragam pilihan makanan dengan cara tertentu sehingga para orangutan ini terus menerus mempelajari hal baru. Sementara itu, BOS Australia yang juga merupakan mitra Yayasan BOS, mendukung dana dan pembangunan sistem pengelolaan pembuangan air limbah untuk menjamin kesejahteraan orangutan kami. Para orangutan unreleaseable akan dipindahkan dari fasilitas lama mereka ke SCU baru ini secepatnya.

Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Yvonne Baumann, turut menghadiri acara peresmian SCU di Pusat Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari karena kepedulian besar atas berbagai permasalahan lingkungan dan keinginannya untuk melihat dan mempelajari langsung berbagai aspek konservasi orangutan yang dijalankan Yayasan BOS dan menunjukkan dukungan sebagai wakil Pemerintah Swiss di Indonesia, terhadap kegiatan konservasi orangutan. Pada kesempatan ini, beliau juga meresmikan SCU yang merupakan dukungan dari BOS Swiss.

Dikemukan oleh Yvonne Baumann, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, “Untuk melestarikan spesies yang terancam punah seperti orangutan memerlukan komitmen besar dari semua pihak terkait. Tahun ini, Kedutaan Besar Swiss di Indonesia juga membantu mendanai program penanaman pohon di areal bekas kebakaran beberapa waktu lalu di Samboja Lestari seluas 5 hektar. Hari ini, saya sangat gembira mendapat kesempatan untuk melihat kegiatan kerja yang sangat penting dari Yayasan BOS.”

Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengatakan, “Kami mengucapkan selamat datang kepada Dubes Yvonne dan terima kasih atas ketertarikan beliau terhadap Yayasan BOS dan konservasi orangutan yang kami jalankan. Kehadiran beliau menunjukkan itikad baik dalam pemberian dukungannya sebagai wakil dari Pemerintah Swiss di Indonesia terhadap kegiatan konservasi orangutan.”

“Kami masih memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan seluruh orangutan di pusat rehabilitasi kami, termasuk mereka yang tidak bisa dilepasliarkan. Kami telah melepasliarkan orangutan kembali ke habitat alaminya, namun ini adalah tugas yang besar dan kami masih memiliki ratusan lainnya menanti dilepasliarkan. Kami menyerukan kepada seluruh pihak untuk membantu upaya ini. Pemerintah, dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dan aparat yang berwenang telah banyak membantu kami, namun kita juga membutuhkan komitmen dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara, untuk berkontribusi nyata dalam perlindungan orangutan yang telah dilepasliarkan melalui penegakan hukum yang tegas demi kelangsungan dan perlindungan orangutan dan habitatnya dalam jangka panjang di Kalimantan Timur,” lanjut CEO Yayasan BOS tersebut.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Tachrir Fathoni. menanggapi, “Pelestarian orangutan dan habitatnya merupakan kewajiban kita bersama. Orangutan sendiri merupakan satwa yang dilindungi keberadaannya oleh pemerintah melalui undang-undang. Jumlah orangutan yang masih berada di dalam pusat rehabilitasi besar sekali, dan kita perlu mengembalikan mereka ke alam liar, begitu mereka siap. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sangat mendukung segala aspek upaya pelestarian orangutan dan habitatnya. Tugas kita semua, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dan seluruh lapisan masyarakat Provinsi Kalimantan Timur untuk merawat dan melestarikan hutan kita. Keberhasilan kita menjaga spesies dilindungi dan hutan sebagai habitatnya menentukan apa yang menjadi hak milik—bukan warisan—generasi berikut.”

Bersamaan dengan kegiatan persemian SCU ini, Yayasan BOS juga melepasliarkan empat individu orangutan dari Samboja Lestari. Keempat orangutan ini terdiri dari dua jantan dan dua betina, yang akan memulai perjalanan kembali ke habitat alaminya melalui jalan darat selama dua hari ke area pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen, di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

DSC_0631 a

Sejak tahun 2012 hingga kini, Yayasan BOS di Samboja Lestari telah melepasliarkan 36 orangutan ke habitat alami mereka di Hutan Kehje Sewen. Jumlah tersebut kini bertambah dengan dilepasliarkannya empat individu kali ini, menjadikan total sebanyak 40 orangutan yang telah kembali ke hutan.

Yang menarik adalah, kedua betina kandidat pelepasliaran, yaitu Teresa dan Bungan merupakan orangutan yang berasal dari area sekitar Hutan Kehje Sewen. Teresa disita oleh BKSDA Tenggarong dari seorang warga di Kecamatan Muara Wahau, lalu diserahkan ke Yayasan BOS pada 2010. Sementara Bungan datang lebih dulu, tahun 2007 melalui penyerahan oleh seorang warga Samarinda yang mengatakan bahwa ia ditemukan di daerah Muara Wahau. Kini Teresa yang berusia 7 tahun dan Bungan, 10 tahun, telah siap untuk “pulang kampung” ke area tempat dia berasal. Hanya kini, dia akan ditempatkan di hutan yang lebih aman dan lebih layak bagi upaya pelestariannya dalam jangka panjang.

Drh. Agus Irwanto, Manajer Program Samboja Lestari mengatakan, “Kami bangga dapat melepasliarkan keempat individu orangutan ini. Ini adalah penantian panjang mereka untuk dapat dikembalikan ke habitat alaminya. Mereka ini orangutan titipan Pemerintah yang telah kami rehabilitasi selama beberapa tahun. Saya berharap ini bisa menjadi awal perjalanan indah mereka menetap di habitat alaminya, seperti yang telah lebih dulu dirasakan oleh para orangutan yang kami lepasliarkan sebelumnya.”

Dr. Aldrianto Priadjati selaku Direktur Konservasi RHOI menambahkan, “Kami menghadapi tantangan untuk selalu memastikan orangutan-orangutan yang direhabilitasi siap untuk dilepasliarkan, dan yang dilepasliarkan dapat beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak di habitat aslinya. Selain itu, kami juga masih berupaya keras untuk mendapatkan areal pelepasliaran orangutan dalam skema Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu untuk Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE), baik di Kalimantan Timur maupun di Kalimantan Tengah. Kami butuh dukungan dari semua pihak dalam hal itu, untuk memastikan orangutan yang saat ini ada di pusat rehabilitasi bisa segera dilepasliarkan.”

Dr. Elisabeth Labes, Kepala Proyek Internasional, Hubungan Mitra, dan salah seorang Pendiri BOS Switzerland mengatakan, “Sayangnya, dalam kondisi tertentu, orangutan tidak dapat dilepasliarkan kembali ke alam liar. Kita harus memastikan mereka ini mendapatkan perawatan terbaik karena meereka akan menghabiskan sisa hidupnya dalam perawatan Yayasan BOS. Saya merasa sangat bahagia BOS Switzerland sanggip menyediakan dana untuk pembangunan fasilitas yang sangat penting ini. Sangat berarti bagi kami bahwa Duta Besar Yvonne Baumann, berkenan menghadiri peresmian SCU dan bahwa Kedutaan Besar Swiss memberikan sumbangan dana untuk mensukung penanaman kembali 5 hektar hutan yang habis dilanda kebakaran di Samboja Lestari.”

Pelepasliaran kali ini terlaksana berkat kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kartanegara, serta masyarakat Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. Yayasan BOS juga berterima kasih atas dukungan moral dan material dari BOS Swiss, donor perorangan, para mitra lainnya, dan organisasi konservasi di seluruh dunia yang peduli atas usaha pelestarian orangutan di Indonesia.

Kontak:

Paulina Laurensia

Spesialis Komunikasi

Email: pauline@orangutan.or.id

Suwardi

Staf Komunikasi Samboja Lestari

Email: ardy@orangutan.or.id

****************

Catatan Editor:

Tentang Yayasan BOS

Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) adalah organisasi nirlaba Indonesia yang berdedikasi terhadap konservasi orangutan Borneo dan habitatnya, bekerjasama dengan masyarakat, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, serta organisasi-organisasi mitra di seluruh dunia.

Didirikan sejak tahun 1991, Yayasan BOS saat ini merawat lebih dari 700 orangutan dengan dukungan 420 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id.

Tentang RHOI

PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) adalah perusahaan yang didirikan oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) pada tanggal 21 April 2009, untuk sebuah tujuan spesifik, yaitu untuk mendapatkan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu untuk Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) bagi pelepasliaran orangutan.

Sebagai sebuah LSM, Yayasan BOS tidak bisa secara legal mendapatkan izin ini. Karena itulah Yayasan BOS membentuk sebuah perusahaan, yaitu RHOI, sebagai sarana untuk mendapatkan izin tersebut. IUPHHK-RE memberikan RHOI otoritas dalam penggunaan dan pengelolaan sebuah area konsesi—dalam hal ini hutan—yang sangat dibutuhkan untuk melepasliarkan orangutan.

Pada 18 Agustus 2010, RHOI berhasil mendapatkan IUPHHK-RE dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, atas lahan hutan seluas 86,450 hektar di Kabupaten Kutai Timur dan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Lahan konsesi ini menyediakan habitat yang layak, terlindungi dan berkelanjutan bagi para orangutan, selama 60 tahun, dengan opsi perpanjangan selama 35 tahun lagi. Dana untuk membayar izin tersebut, sebesar sekitar 1,4 juta dolar Amerika, didapatkan dari para donor Yayasan BOS yang berasal dari Eropa dan Australia.

RHOI menamakan lahan konsesi ini Hutan Kehje Sewen, mengadopsi bahasa lokal Dayak Wehea di mana ‘kehje sewen’ berarti orangutan. Jadi Kehje Sewen adalah hutan bagi para orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi website www.theforestforever.com.[:]

[PRESS RELEASE] Another Baby Orangutan Smuggled to Kuwait Returns Home

[:en]

The Indonesian Government, represented by the Directorate General of Natural Resources and Ecosystem Conservation of the Ministry of Environment and Forestry and the Indonesian Embassy in Kuwait supported by the Kuwait Zoo and worked in collaboration with the BOS Foundation to return another baby orangutan aged around 10 months old, illegally smuggled to Kuwait in July 2015.

Jakarta, 23 November 2015. In July 2015, the Kuwait International Airport successfully intercepted an attempt to illegally smuggle two baby orangutans into Kuwait from Jakarta. The Indonesian Embassy in Kuwait quickly collaborated with the Ministry of Foreign Affairs and the Ministry of Environment and Forestry in order to repatriate these two orangutans. Initial health checks revealed that both were female and aged 2 years and 6 months old respectively.

On 13 September 2015, the 2-year-old who we named MOZA, was safely repatriated to Indonesia and is currently in the care of Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, West Java. The other baby, now 10-months-old, remained in the care of Kuwait Zoo as was deemed too young to travel.

The Indonesian government, represented by the Directorate General of Natural Resources and Ecosystem Conservation of the Ministry of Environment and Forestry and the Indonesian Embassy in Kuwait in collaboration with the Borneo Orangutan Survival Foundation (BOS Foundation), has now repatriated the second orangutan baby who we have named Puspa. The baby was transported by Kuwait Airways flight number KU415 and landed in Soekarno-Hatta International Airport, Tangerang on 23 November 2015 at 15:40 local time.

ribbet 20151122_105644

ribbet DSC05728

During the process of repatriating Puspa, the BOS Foundation contributed by providing funds for transportation of 1 (one) individual orangutan, a set of detailed Standard Operating Procedures to ensure safe transportation of the baby orangutan, as well as an experienced veterinarian to accompany Puspa during her flight from Kuwait to Jakarta.

ribbet DSC05762

A physical examination by the accompanying vet has revealed that Puspa is in very good health even after a 10-hour long flight.

From the Soekarno-Hatta International Airport, Tangerang, Puspa was transported directly to Quarantine installation of Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, West Java, under the care of a joint team of the Ministry of Environment and Forestry and the BOS Foundation. Puspa is now undergoing a quarantine process.

The quarantine process consists of thorough health and DNA tests to determine where she will be rehabilitated. Puspa joins other baby orangutans, Moza and Junior, who were already in quarantine and their test results conclude that both are Bornean orangutans from Central Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii). A thorough rehabilitation process is critical to give these three orangutans a chance to someday return to their true habitat, the forest.

Ahmad Fachmi S, Head of Social and Culture Information of the Indonesian Embassy in Kuwait, says, “The Indonesian Embassy in Kuwait has been working in collaboration with the Kuwait Zoo, the Directorate General of Natural Resources and Ecosystem Conservation of the Ministry of Environment and Forestry, and the BOS Foundation in order to return these two orangutans. This particular repatriation has occurred due to a strong commitment from both the Kuwait and Indonesian governments, to preserve this endangered species as stated in Appendix 1 CITES.”

Director General of Natural Resources and Ecosystem Conservation of the Ministry of Environment and Forestry, Dr. Ir. Tachrir Fathoni, M.Sc. says, “Within the past few months, the government has demonstrated positive results in the fight against illegal animal trade to foreign countries, and succeeded in returning a number of animals. The government is in the process of collecting data on orangutans smuggled abroad with the intention of returning them immediately. As regulated by international law, all illegally transported orangutans must be returned to Indonesia. The Indonesian government wishes to release orangutans back to natural habitat when possible, therefore the Ministry of Environment and Forestry, through the Directorate General of Natural Resources and Ecosystem Conservation, has requested the BOS Foundation to assist in the repatriation of two orangutan babies cared for at the Kuwait Zoo, and if the DNA test results deem, to place them in BOS Foundation’s Orangutan Rehabilitation Centers.”

Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO of BOS Foundation says, “Behind our success of returning these two orangutans from Kuwait, there is still a huge remaining problem. Failed wild animal smuggling and trade cases indicate weak field monitoring and law enforcement. This is like the tip of an iceberg. What you see is nothing compare to what the real deal uderneath. Our field teams frequently encounter hunters, poachers, even illegal loggers. We continually report these findings to the local authorities, with so far no satisfying follow up. If you are committed to eradicate smuggling and illegal animal trade, field monitoring and and law enforcement must be done at the highest standard. You simply can not go half way.”

ribbet DSC05743

In the past few weeks, the government has been intensifying the fight against illegal animal trade. This includes the arrest of a local animal trade syndicate with ties to an international network by the Directorate of Special Criminal Investigation of the Jakarta Police Force several days ago. Not only should we be working nationwide, the government should also be actively pursuing collaboration with other governments to create an international worldwide monitoring system. We also need to appoint honest, disciplined and professional officers at our international border points.

Orangutans are legally protected by Government Regulation number 7/1999. Their conservation has also been highlighted in the 2007-2017 Indonesian Orangutan Conservation Action Plan and Strategy launched personally by the former President Yudhoyono, during the Climate Change Conference in Bali, December 2007. However the success of orangutan conservation actions will heavily rely on the support and commitment from all parties, the government and people of Indonesia.

The Indonesian government expresses high appreciation towards all the parties involved in this repatriation. The Kuwait International Airport for their interception, the Kuwait Zoo for the care given to Moza and Puspa, as well as the Kuwait Embassy for the prompt coordination and strong commitment to bring home these poor young orangutans.

Orangutans are an umbrella species with a very significant role in forest regeneration and one of Indonesia’s iconic species. It is time for all parties to put more emphasis on orangutan conservation. Because apart from protecting them from extinction, to conserve their habitat also means to create a better quality of life and mutual wellbeing.

*************************************

Contact:

Paulina Laurensia Ela

Communication Specialist

Email: pauline@orangutan.or.id

Bambang Dahono Adji

Director of Biodiversity Conservation

*************************************

Editor’s Note:

ABOUT BOS FOUNDATION

Founded In 1991, the BOS Foundation is a non-profit Indonesian organization dedicated to conservation of Bornean orangutan and its habitat, working together with local communities, the Ministry of Environment and Forestry of the Republic of Indonesia and international partner organizations.

Currently the BOS Foundation is rehabilitating more than 700 orangutans with the support from 400 highly dedicated staff and experts in primatology, biodiversity, ecology, forest rehabilitation, agroforestry, community empowerment, communications, education, and orangutan welfare. For further informations please visit www.orangutan.or.id.

[:ID]

Pemerintah Indonesia dalam hal ini Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuwait dibantu oleh Kebun Binatang Kuwait bekerja sama dengan Yayasan BOS telah berhasil memulangkan satu lagi bayi orangutan yang berusia sekitar sepuluh bulan, yang diselundupkan ke Kuwait bulan Juli 2015 lalu.

Jakarta, 23 Nopember 2015. Pada bulan Juli 2015, pihak Bandar Udara International Kuwait berhasil menggagalkan penyelundupan 2 individu orangutan dari rute penerbangan Jakarta – Kuwait. Pihak Kedutaan Besar Indonesia di Kuwait segera berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia dan juga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait pemulangan kedua bayi orangutan ini. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap keduanya, diketahui bahwa kedua orangutan ini berjenis kelamin betina, berusia 2 tahun dan enam bulan.

Tanggal 13 September lalu, satu orangutan berusia 2 tahun yang diberi nama MOZA, telah dipulangkan ke tanah air oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan KBRI Kuwait dan saat ini di karantina di Taman Safari Indonesia Cisarua, Bogor, Jawa Barat (yang mempunyai standar internasional). Satu orangutan lagi yang kini berusia 10 bulan, masih dirawat di Kebun Binatang Kuwait.

Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuwait, bekerja sama dengan Borneo Orangutan Survival Foundation (Yayasan BOS), kembali berhasil memulangkan bayi orangutan, yang diberi nama Puspa menggunakan penerbangan Kuwait Airways KU415 dan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang pada 23 Nopember 2015 pukul 15:40 waktu setempat.

ribbet 20151122_105644

ribbet DSC05728

Dalam upaya repatriasi Puspa ini, Yayasan BOS membantu pemerintah dalam hal penyediaan dana untuk mengirimkan 1 (satu) orangutan tersebut, seperangkat panduan protokol terinci (SOP) yang perlu dijalankan untuk melindungi keamanan dan kesejahteraan orangutan selama perjalanan dari Kuwait ke Indonesia, serta penyediaan seorang dokter hewan berpengalaman yang mendampingi kepulangan bayi orangutan tersebut.

ribbet DSC05762

Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter hewan, orangutan betina mungil ini dalam kondisi sehat, setelah melalui perjalanan panjang selama kurang lebih 10 jam di dalam pesawat.

Dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Puspa langsung dibawa ke instalasi Karantina Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, dikawal oleh tim gabungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan dari Yayasan BOS. Begitu tiba di tempat, Puspa langsung menjalani karantina.

Puspa selanjutnya menjalani proses karantina, di mana dilakukan tes kesehatan menyeluruh dan tes DNA untuk menentukan ke mana dia akan dikirim untuk menjalani proses rehabilitasi. Puspa bergabung dengan Moza dan Junior yang sudah lebih dulu menjalani proses karantina dan hasilnya menunjukkan bahwa keduanya adalah orangutan Borneo dari sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii. Proses rehabilitasi sangat diperlukan oleh ketiga orangutan ini demi memberikan mereka kesempatan untuk bisa dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di hutan.

Ahmad Fachmi S, Kepala Penerangan Sosial dan Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuwait, mengatakan, “Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuwait bekerja sama dengan Kebun Binatang Kuwait dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia serta Yayasan BOS dalam upaya pemulangan kembali kedua orangutan ini. Pemulangan orangutan ini merupakan implementasi dari komitmen yang kuat baik dari Pemerintah Indonesia dan pihak berwenang di Kuwait untuk melestarikan spesies yang terancam punah ini seperti yang tercantum di dalam Appendix 1 CITES.”

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Tachrir Fathoni, M.Sc. mengatakan, “Dalam beberapa bulan terakhir, Pemerintah Indonesia berhasil menggagalkan penyelundupan satwa liar ke negara lain, dan memulangkan beberapa di antaranya. Pemerintah Indonesia saat ini sedang mendata jumlah orangutan liar yang diselundupkan secara illegal ke luar negeri dengan harapan bisa dikembalikan ke Indonesia segera. Sesuai dengan peraturan internasional, orangutan yang ada di luar negeri harus kembali ke Indonesia. Kebijakan Pemerintah Indonesia berkomitmen melepasliarkan orangutan ini ke habitat alaminya di hutan jika memungkinkan, sehingga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam hal ini Ditjen KSDAE, bekerja sama dengan KBRI Kuwait dan Yayasan BOS untuk membantu proses pemulangan bayi orangutan yang ada di Kebun Binatang Kuwait, dan jika DNA-nya tepat, akan ditempatkan di Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan BOS.”

Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS mengatakan, “Di balik keberhasilan kita memulangkan dua bayi orangutan dari Kuwait ini, masih tersisa akar masalah yang besar. Penyelundupan dan perdagangan satwa liar yang bisa digagalkan ini merupakan indikasi lemahnya pengawasan di lapangan dan penegakan hukum. Hal ini ibarat puncak sebuah gunung es. Bagian yang tampak di permukaan jauh lebih kecil daripada yang sesungguhnya terjadi. Tim kami di lapangan masih kerap menemukan pemburu satwa bahkan pembalak liar. Kami membantu menginformasikan berbagai temuan ini agar aparat di lapangan dapat melakukan tindakan yang tepat. Jika kita berniat memberantas penyelundupan dan perdagangan satwa liar, pengawasan di lapangan dan penegakan hukum jelas harus maksimal.”

ribbet DSC05743

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah telah menggalakkan upaya pemberantasan perdagangan satwa langka yang dilindungi. Hal ini terbukti dengan berhasil ditangkapnya komplotan pedagang satwa yang terhubung dengan sindikat internasional oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya beberapa hari lalu. Namun tak hanya aktif di dalam negeri, pemerintah perlu menjalin kerja sama dengan negara-negara lain, sehingga tercipta pengawasan secara internasional. Selain itu kita perlu menempatkan petugas yang jujur, disiplin, dan profesional di setiap jalur internasional masuk dan keluar negeri ini.

Orangutan adalah satwa yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No 7/1999. Upaya pelestariannya pun tersusun rapi dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017 yang diluncurkan langsung oleh presiden Indonesia saat itu, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, pada Konferensi Perubahan Iklim di Bali, Desember 2007. Namun keberhasilan konservasi orangutan sangat tergantung pada dukungan dan keseriusan semua pihak, yaitu pemerintah dan masyarakat.

Pemerintah memberikan penghargaan yang tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pemulangan orangutan ini. Bandara Internasional Kuwait yang sigap menghentikan penyelundupan, Kebun Binatang Kuwait yang telah memberikan perawatan yang baik kepada Moza dan Puspa, KBRI Kuwait atas koordinasi yang cepat, BOSF yang membantu pemulangan dan rehabilitasi serta Taman Safari Indonesia yang menyediakan fasilitas Karantina dan Lembaga Molekuler Eijkman yang membantu melakukan tes DNA.

Orangutan adalah spesies payung yang berperan penting dalam regenerasi hutan dan menjadi satwa kebanggaan Indonesia. Sudah saatnya semua pihak lebih peduli terhadap konservasi orangutan. Karena selain melindungi orangutan dari ancaman kepunahan, melestarikan habitat orangutan berarti berupaya mewujudkan kualitas hidup yang layak dan kesejahteraan bersama.

*************************************

Kontak:

Paulina Laurensia Ela

Spesialis Komunikasi

Email: pauline@orangutan.or.id

Bambang Dahono Adji

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati

*************************************

Catatan Editor:

Tentang Yayasan BOS

Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) adalah organisasi nirlaba Indonesia yang berdedikasi terhadap konservasi orangutan Borneo dan habitatnya, bekerja sama dengan masyarakat, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, serta organisasi-organisasi mitra di seluruh dunia.

Didirikan sejak tahun 1991, Yayasan BOS saat ini merawat lebih dari 700 orangutan dengan dukungan 400 karyawan yang berdedikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, komunikasi, edukasi, dan kesehatan orangutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.orangutan.or.id.

[:]

Post-fire Recovery in Samboja Lestari

[:en]Thankfully the weather has improved over the past few weeks in East Kalimantan, and our team at the BOS Foundation Orangutan Reintroduction Center-Samboja Lestari was able to start reforestaion of the area that was damaged by fire in September and October (read the full story here: Samboja Lestari Through the Fire).

This process involves replanting of the burned areas, construction of water catchment areas/pools and establishing land new trails for easier access throughout Samboja Lestari. The water pools – locally known as embung – have been established to collect rainwater. During the fire outbreak in Samboja Lestari a month ago, the fire fighting team heavily depended on the water from these pools and it is essential that we maintain and expand this critical resource.

Helped by a couple of overseas visiting volunteers, the Samboja Lestari team enthusiastically commenced replanting of the destroyed areas.

pageOur volunteer program in Samboja Lestari is implemented in collaboration with The Great Projects (TGP). Thanks to their help, we have replanted more than 300 seedlings within the burnt areas.

IMG_5708

Meanwhile, the Samboja Lestari team received fantastic support from VICO Indonesia in constructing new trails and water pools. We have finished digging 12 new pools, and additional locations are still in progress.

catsIMG_8581

IMG_8605

The construction of new trails and water pools will help the Samboja Lestari team manage future possibile fire events.

BOS Foundation will continue to ensure that orangutan rehabilitation and care is top priority and that the 700 orangutans we are currently taking care of in Samboja Lestari, East Kalimantan and Nyaru Menteng, Central Kalimantan will have the best chance of future reintroduction.

Text and photos by: BOSF Samboja Lestari Communications Team

You can make a difference right now by showing your support for orangutan conservation and help save orangutans! DONATE NOW

[:ID]Kondisi cuaca yang sudah semakin membaik di Kalimantan Timur, akhirnya membuat tim kami di BOS Foundation Samboja Lestari dapat melakukan perbaikan lahan hutan pasca kebakaran yang terjadi sejak September-Oktober 2015 lalu (baca cerita mengenai kebakaran di Samboja Lestari di sini: Samboja Lestari Melawan Api).

Perbaikan yang sudah dilakukan di antaranya meliputi penanaman bibit tanaman di lahan bekas kebakaran, pembuatan embung air, dan pembuatan jalan setapak atau jalur baru untuk memudahkan tim menuju sejumlah titik di Samboja Lestari. Embung air adalah kolam buatan untuk menampung air hujan. Dalam peristiwa kebakaran lahan di Samboja lestari beberapa waktu lalu, tim pemadam sangat mengandalkan pasokan air dari embung-embung yang terdapat di wilayah pusat rehabilitasi orangutan tersebut.

Dibantu oleh beberapa relawan dari berbagai negara yang sedang beraktivitas di sana, tim melakukan penanaman bibit di beberapa lahan bekas kebakaran. Meskipun panas matahari yang terik dan menyengat hari itu, mereka terlihat begitu antusias dan senang membantu kami menanam bibit tanaman.

pageProgram sukarelawan di BOS Foundation Samboja Lestari sendiri merupakan program kerjasama dengan The Great Project (TGP), dengan mereka bertanggung jawab mengatur jadwal kegiatan program relawan di Samboja Lestari. Berkat bantuan para relawan dari TGP, saat ini di lahan bekas kebakaran tersebut sudah tertanam sekitar 300 lebih bibit tanaman.

IMG_5708

Sementara itu, dalam proses pembukaan lahan sebagai akses jalur baru dan pembuatan embung air, Tim Samboja Lestari mendapat bantuan dari VICO Indonesia. Dari beberapa titik yang rencananya akan dijadikan embung air, 12 diantaranya sudah selesai dikerjakan dan beberapa area masih dalam proses pengerjaan.

catsIMG_8581

IMG_8605

Pembuatan akses jalan dan beberapa embung air ini diharapkan dapat membantu tim Samboja Lestari menghadapi kebakaran lahan hutan yang kapan saja bisa terjadi.

BOS Foundation akan terus berusaha melakukan yang terbaik agar semua proses rehabilitasi orangutan dapat berjalan dengan maksimal, sehingga kelak sekitar 700 orangutan yang di rehabilitasi di Samboja Lestari, Kalimantan Timur dan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah dapat menyongsong kebebasannya di hutan, rumah sejatinya.

 Teks dan foto oleh: Tim komunikasi BOSF Samboja Lestari

Kamu bisa membuat perubahan sekarang juga dengan mendukung konservasi orangutan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

[:]

SPECIAL CAMPAIGN

[:en]

HELP US BUILD A NEW HOME FOR OUR BABIES!

banner 1a

Why we need your help!

The recent forest fires and haze have left many young orangutans orphaned and we have already rescued 6 infants in the last few weeks bringing our baby group to 22 orangutans. Even more are expected to arrive and our current Baby House is too small and insufficient for our needs. We need to build a bigger Baby House to accommodate all of our babies and provide them with the round the clock care they need in a hygienic, suitable environment.

View and Download the Video

What we want to do (Click here)

Our new Baby House will be a brand new facility, large enough to house all our babies and any new arrivals. We have designed outdoor forest schools and indoor play areas so that even when it is raining, our babies can continue to learn and play. We have designed two separate buildings; one for healthy babies which have completed health screening and one for incoming babies who need to be quarantined before they can join the rest of the babies. Each building is self contained with new kitchen and bathroom facilities, bedrooms for when we need one on one care with new or sick babies, and attaching outdoor sleeping enclosures for older orangutans. We are not just building a house, we are building a home in an environment where our babies have the best opportunities to learn and receive the dedicated love and care they need to be healthy, happy and confident young orangutans.

View and Download the Factsheet

Meet the Baby Beneficiaries (Click images for detailed stories)

  • Meet some of our new Fire Babies

_BOS_4439 copy- Fathir
FATHIA

Fathia is a female baby orangutan rescued by BOSF-Nyaru Menteng together with BKSDA Central Kalimantan from a local person on Linau Village, Tumbang Jutuh, Gunung Mas Regency, Central Kalimantan on September 1st, 2015, when she was 10 month old.

_BOS_4431- Napri
NAPRI

On 21st September 2015, a rescue team from Nyaru Menteng in collaboration with BKSDA Central Kalimantan rescued a 4-month old male orangutan, weighing only 1.5 kgs, from a local settler in the Hiang Bana transmigration area, Katingan Regency.

  • Meet some of our resident Babies

_BOS_7157 copy_1
MERYL

Meryl was found in a very poor condition in Tumbang Jiga Village, Katingan Regency on January 7th, 2015. She was weak and thin. The owner put her in a lanjung, a Dayak traditional bag made of plaited rattan, usually used for carrying crops or firewood. She could barely move inside the bag.

_BOS_6553 copy_1
SURA

Four month old Sura did not only suffer the tragic loss of his mother at a very young age, he also suffered the loss of three fingers on his left hand during his capture.

_BOS_6538 copy_1
MADARA

Madara was separated from his mother, kept as pet and almost sold on the illegal pet trade. Fortunately a good man stepped in and saved him from this terrible fate and handed him over to the BOS Foundation team in Nyaru Menteng.

YUTRIS
YUTRIS

Yutris, is a 7-month old baby male orangutan weighing 3 kgs. He was apparently found without his mother by bird hunters and taken care of by a local resident of Madara before being taken to Buntok, South Barito regency and then finally on to Nyaru Menteng on May 6th, 2015.

Meet our Babysitters

Babysitter MIA PUSPITA
Babysitter MIA PUSPITA

Reaching our Goal

To reach our goal we need the following support!

donate-now USD

We need your help to build a new home for our babies! All you have to do is click the donate button above and pledge your support

[:ID]

BANTU KAMI MEMBANGUN RUMAH BARU BAGI PARA BAYI ORANGUTAN!

banner 1a

Kenapa Kami Perlu Bantuan Anda!

Kebakaran hutan dan kabut asap yang baru saja terjadi telah membuat banyak orangutan menjadi yatim piatu. BOS Foundation di Nyaru Menteng telah menyelamatkan 6 bayi dalam beberapa minggu terakhir, sehingga total bayi orangutan kami menjadi 22 orangutan. Bahkan kemungkinan besar jumlah bayi yang masuk akan lebih banyak lagi setelah kebakaran ini usai, dan baby house kami terlalu kecil untuk menampung lebih banyak lagi orangutan. Kami perlu membangun baby house yang lebih besar untuk mengakomodasi semua bayi yang ada, memberikan perawatan 24 jam di tempat yang lebih higienis dan di lingkungan yang sesuai.

Lihat dan Unduh Video

Apa yang Kami Rencanakan (Klik di sini)

Baby house ini merupakan fasilitas baru yang dibangun cukup besar untuk dapat mengakomodasi semua bayi orangutan yang saat ini ada di Nyaru Menteng dan bayi yang baru datang. Kami telah merancang Sekolah Hutan “outdoor” dan arena bermain “indoor”, sehingga pada saat hujan semua bayi masih bisa terus belajar dan bermain. Kami pun telah merancang dua bangunan terpisah; satu untuk para bayi orangutan yang telah melalui proses karantina dan dinyatakan sehat dan satu bangunan khusus karantina bagi para bayi orangutan yang baru tiba di Nyaru Menteng, sebelum mereka dapat bergabung dengan para bayi orangutan yang sehat. Setiap bangunan memiliki fasilitas dapur dan kamar mandi, kamar tidur ketika para bayi orangutan yang baru atau sakit membutuhkan perhatian khusus, dan juga enclosure di luar ruangan bagi para orangutan yang sudah besar. BOS Foundation tidak sekedar membangun rumah, tapi kami membangun rumah di lingkungan yang sesuai dan nyaman di mana para bayi orangutan memiliki kesempatan untuk belajar dan menerima kasih sayang serta perawatan terbaik yang diperlukan agar menjadi orangutan yang sehat, bahagia, dan percaya diri.

Unduh Fact sheet

Ayo Kenalan Dengan Para Penghuni Baby House (Klik foto di bawah untuk cerita selengkapnya)

  • Berkenalan dengan para Bayi korban Kebakaran Hutan

_BOS_4439 copy- Fathir
FATHIA

Bayi orangutan betina ini diselamatkan oleh BOSF-Nyaru Menteng bersama BKSDA Kalimantan Tengah dari seorang warga di Desa Linau, Tumbang Jutuh, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah pada 1 September 2015 saat usianya 10 bulan dengan berat badan 2,5 kg.

_BOS_4431- Napri
NAPRI

Pada 21 September 2015, tim rescue Nyaru Menteng bersama BKSDA Kalimantan Tengah menyelamatkan bayi orangutan jantan berusia 4 bulan dengan berat badan hanya 1,5 kg di Desa Hiang Bana, Kabupaten Katingan.

  • Berkenalan dengan para penghuni Baby House

_BOS_7157 copy_1
MERYL

Meryl ditemukan dalam kondisi yang sangat menyedihkan di Desa Tumbang Jiga, Kabupaten Katingan pada 7 Januari 2015. Kondisinya sangat lemah dan kurus sekali. Pemiliknya menempatkan di dalam Lanjung, keranjang yang terbuat dari rotan, biasanya digunakan untuk membawa tanaman atau kayu bakar. Dia hampir tidak bisa bergerak di dalam keranjang tersebut.

_BOS_6553 copy_1
SURA

Ketika ditangkap diusianya yang masih 4 bulan, Sura tidak hanya menderita akibat kehilangan induknya tetapi juga kehilangan tiga jari pada tangan kirinya.

_BOS_6538 copy_1
MADARA

Madara dipisahkan dari induknya, menjadi hewan peliharaan manusia dan nyaris dijual di pasar gelap. Beruntung, seorang pria baik hati menyelamatkannya dari nasib yang mengerikan dan menyerahkannya kepada BOS Foundation di Nyaru Menteng.

YUTRIS
YUTRIS

Orangutan jantan ini tiba di Nyaru Menten pada usia 7 bulan dengan berat badan 3 kg. Ia ditemukan tanpa induk oleh para pemburu burung, dan sempat beberapa hari dipelihara oleh warga Desa Madara sebelum akhirnya dibawa ke Buntok, Kabupaten Barito Selatan. BKSDA Kalimantan Tengah menyerahkan kepada Nyaru Menteng pada 6 Mei 2015.

Berkenalan dengan Para Babysitters

Babysitter MIA PUSPITA
Babysitter MIA PUSPITA

Target Penggalangan Dana

Untuk memenuhi target penggalangan dana, kami memerlukan dukungan dana untuk:

donate-now IDR

Kami membutuhkan bantuan Anda untuk membangun rumah baru untuk bayi kami! Klik tombol donasi di atas dan salurkan dukungan Anda

[:]

Happy orangutan Caring Week!

[:en]

Four Mother-Infant Pairs Adapt Well in Batikap.

On two consecutive days in August the BOS Foundation Nyaru Menteng team successfully released orangutans once again into the Bukit Batikap Conservation Forest, Central Kalimantan (read the profiles here: Nyaru Menteng 11th Orangutan Release Candidate Profiles). Of the 19 orangutans released, eight were mother-infant units (four pairs).

Our post-release monitoring team reported in from Camp Totat Jalu in the Batikap Forest, that after their reintroduction, the four mother-infant pairs have adapted well. The mothers appear to be patiently protecting, caring and guiding their infants to build nests, climb trees, explore and forage for food in the forest.

Jambi and Jamartin

Our post-release monitoring (PRM) team have observed the mother-infant pair Jambi and Jamartin and reported that mother and son spent most of their time up in the trees. Jambi, who became very skilled at foraging during her rehabilitation period at Nyaru Menteng, was apparently enjoying her new environment and was spotted eating rattan shoots and forest fruits such as the lumuk, a kind of jackfruit.

Jambi dan Jamartin - DSC03363

Mawar and Mumpuni

Observing released orangutans can be quite challenging, as was the case with tracking Mawar and Mumpuni. The PRM team noted that 3-year-old Mumpuni would kiss-squeak whenever he saw a human approach, to indicate his displeasure. This was also a signal for Mawar, the mother, to move away through the trees as baby Mumpuni clung to her. This is how wild orangutans would behave upon seeing a person, so we are delighted with their reaction.

Mawar dan Mumpuni - DSC03424

Meklies and Meklias

The team found Meklies and her baby, Meklias, playing up in a tree. At first, the team did not spot Meklies, so they thought the baby was playing all by himself. It took a couple of minutes for them to realize that mother Meklies was indeed nearby. After seeing our team, Meklias quickly returned to his mother, who was resting up in the same tree.

Meklias - DSC03666

Meklias dan Meklias - DSC03445

Sumeh and Sawung

Like Jambi, Mawar and Meklies, Sumeh is a good mother to her baby, Sawung. During observations, the pair spent a lot of time up in the trees, which is exactly where they should be.

Sumeh dan Sawung - DSC03397

It is fantastic to see that our released orangutans are adapting well to their new home in the forest. We will continue to reintroduce orangutans from our rehabilitation centres – Nyaru Menteng and Samboja Lestari – back to their natural habitat. Through our reintroduction efforts we ask for all stakeholders to support and take real action in orangutan conservation, for the benefit of a sustainable future for this planet and all its living creatures.

Text and photos by: PRM Team at Camp Totat Jalu in Bukit Batikap Conservation Forest

You can make a difference right now by showing your support for orangutan conservation and help save orangutans! DONATE NOW

[:ID]

Empat Pasang Ibu dan Anak Beradaptasi dengan Baik di Batikap

Pada dua hari berturut-turut pada bulan Agustus tim Yayasan BOS Nyaru Menteng berhasil merilis orangutan kembali ke Hutan Lindung Bukit Batikap, Kalimantan Tengah (baca profil mereka sini: Profil Kandidat Pelepasliaran Orangutan Ke-11 Nyaru Menteng). Dari 19 orangutan yang dilepasliarkan, delapan diantaranya merupakan ibu dan anak (empat pasang).

Tim PRM (Post Release Monitoring) kami di Camp Total Jalu di Hutan Batikap, melaporkan bahwa setelah mereka dilepasliarkan, empat pasang ibu dan anak tersebut telah beradaptasi dengan baik. Para ibu dengan sabar untuk menjaga, merawat, serta mengenalkan anaknya untuk membuat sarang, memanjat pohon, menjelajah, dan mengenali pakan alaminya.

Jambi dan Jamartin

Tim PRM kami telah mengamati Jambi dan Jamartin, dan melaporkan bahwa mereka banyak melakukan aktivitasnya di atas pohon. Jambi, orangutan betina yang sangat terampil mencari pakan alaminya saat direhabilitasi di BOSF Nyaru Menteng, rupaya sangat menikmati lingkungan barunya, dan terlihat makan umbut rotan dan buah-buahan hutan, yaitu buah lumuk.

Jambi dan Jamartin - DSC03363

Mawar dan Mumpuni

Mengamati orangutan yang dilepasliarkan sangat menantang, seperti yang terjadi pada saat mengobservasi Mawar dan Mumpuni. Tim PRM mencatat bahwa Mumpuni, yang berusia 3 tahun ini terus mengeluarkan kiss-squeak, untuk menunjukkan rasa tidak senangnya. Ini juga sebagai tanda bagi Mawar, sang ibu untuk terus menjauh berpindah dari pohon ke pohon. Ini merupakan perilaku orangutan liar saat melihat seseorang, jadi kami sangat senang dengan reaksi mereka.

Mawar dan Mumpuni - DSC03424

Meklies dan Meklias

Saat melakukan pemantauan terhadap Meklies dan Meklias, Tim PRM kami mendapatkan Meklias sedang bermain di atas pohon. Awalnya, tim kami mengira bahwa ia sedang bermain sendirian, ternyata setelah beberapa saat kami menyadari ada Meklies di dekatnya. Setelah menyadari keberadaan Tim PRM, Meklias pun bergegas menghampiri Meklies yang sedang beristirahat di dahan pohon.

Meklias - DSC03666

Meklias dan Meklias - DSC03445

Sumeh dan Sawung

Sama halnya seperti Jambi, Mawar, dan Meklies, Sumeh pun menjadi ibu yang sangat baik untuk anaknya, Sawung. Selama di observasi, mereka juga banyak menghabiskan waktunya di atas pohon dan menjelajah dari pohon satu ke pohon lainnya.

Sumeh dan Sawung - DSC03397

Sangat senang melihat orangutan-orangutan yang telah kami lepasliarkan dapat beradaptasi dengan baik di rumah sejatinya. BOS Foundation akan terus berupaya melepasliarkan orangutan-orangutan rehabilitasi Nyaru Menteng atupun Samboja Lestari ke habibatnya. Pelepasliaran ini menjadi himbauan bagi semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan aksi nyata dalam upaya konservasi orangutan demi kesejahteraan bersama dan masa depan yang berkelanjutan bagi seluruh makhluk hidup di bumi.

Teks dan foto oleh: Tim PRM di Camp Totat Jalu, Hutan Lindung Batikap.

Kamu bisa membuat perubahan sekarang juga dengan mendukung konservasi orangutan dan membantu menyelamatkan orangutan! DONASI SEKARANG

[:]